Survei Intelektual Muda Sebut Sutarto Kalahkan Prabowo

- 12 Februari 2013 22:31 wib
<p>Endriartono-Sutarto-MI/M Irfan/cs</p>

Endriartono-Sutarto-MI/M Irfan/cs

Metrotvnews.com, Jakarta: Rekapitulasi hasil survei opini intelektual muda UI mengenai figur tokoh perwira tinggi militer TNI yang berpotensi menjadi Calon Presiden 2014, menunjukkan hal yang di luar dugaan.

Survei ini dilakukan Kelompok Kajian Pembangunan Sosial Politik Indonesia (Kabangsospol Indonesia) UI.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem diperingkat keempat dari 10 tokoh kalangan militer yang berpotensi besar menjadi calon Presiden.

"Endriartono mengalahkan, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, lalu Agum Gumelar dan KASAD saat ini Pramono Edhie Wibowo," ungkap Sekretaris Kabangsospol Nayawan Persada dalam suatu acara dengan tema Siapakah tokoh nasional yang paling pantas menjadi calon Presiden 2014 di Jakarta (12/2)

Diperingkat pertama dalam survei itu adalah Letjen TNI Purn Sutiyoso diikuti Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto, lalu Jend TNI Purn Wiranto.

Survei dilakukan di kota besar di 7 provinsi yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Tiap-tiap provinsi dipilih 200 responden sehingga total responden adalah 1400 orang. Sampling dengan metode quota sampling dilakukan dari 1 sampai 15 Januari 2013.

Survei bertujuan untuk mengukur kualitas capres dari kalangan militer menggunakan lima indikator yaitu integritas, kapabilitas, kepemimpinan, track record dan kepatuhan terhadap hukum. (Raja Eben L/Win)

()

INTERNASIONAL

Mata Najwa: Melawan Arus

02 September 2014 21:09 wib

Mata Najwa: Perbedaan pendapat merupakan hal yang umum terjadi dan dijamin kebebasannya dalam UU negara. Namun ternyata di negara demokratis ini, perbedaan pendapat dan pandangan justru sulit diterima di sejumlah partai politik.  Sejumlah anggota yang memilih untuk melawan arus, harus menghadapi resiko menerima sanksi.  Reformasi dalam partai politik pun seakan tak berbunyi. Sebagai pilar demokrasi, partai politik malah jadi sumber masalah. Kaderisasi tak berjalan, hanya mencari kawan yang sepaham, sementara idealism tak lagi diusung ke depan.   Namun sikap para politikus pun harus ditelaah.  Apakah keberpihakan mereka memang sungguh mengikuti hati nurani, mendengar suara rakyat dan idealisme atau hanya membungkus sikap pragmatis. Mata Najwa mengundang politikus senior Lily Wahid yang pernah membuat gebrakan di PKB. Lily melawan kebijakan partai saat duduk di kursi DPR, menggugat kasus Century dan mengusung hak angket mafia pajak. Serta Yusuf Supendi yang terus mengkritisi ketidak-adilan elit partai yang didirikannya, PKS. Dari jalur politik terkini, hadir pula sebagai narasumber politikus partai Demokrat, Ruhut Sitompul, politikus partai Gerindra, Harris Indra dan politikus partai Golkar, Nusron Wahid. Ketiganya menghadapi situasi yang berbeda-beda, meski sama-sama melawan arus kebijakan partainya dengan mendukung Jokowi. Pengamat politik, Yunarto Wijaya juga hadir untuk memberikan gambaran mengenai kondisi partai politik Indonesia saat ini.  Saksikan selengkapnya hanya di Mata Najwa, Rabu 3 September 2014 pukul 20:05 WIB di Metro TV.