Pihak Berwenang Kamboja Dinilai Berpihak pada Bos Judi

Fajar Nugraha    •    Kamis, 28 May 2015 16:59 WIB
wni
Pihak Berwenang Kamboja Dinilai Berpihak pada Bos Judi
Ilustrasi meja perjudian (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Phnom Penh: Kasus penahanan warga negara Indonesia (WNI) di Kamboja, oleh pengusaha kasino dipenuhi keanehan. Tuntutan ganti rugi pun dikabarkan tiba-tiba saja berubah.
 
WNI yang ditahan perusahaan tempat mereka bekerja di Dai Long Co. Ltd yang berada di Grand Dragon Resort. Perusahaan tersebut bergerak di bidang kasino dan judi online yang berlokasi di Chrey Thom, Provinsi Kandal.
 
Pada 18 Mei 2015, Jefry Sun (JS), orang yang diduga merupakan tokoh di balik kasus penggelapan uang ini, menyerahkan dirinya ke KBRI Kuala Lumpur di Malaysia. Hasil koordinasi KBRI Phnom Penh dan KBRI Kuala Lumpur berhasil membawa kembali JS ke Phnom Penh pada 19 Mei 2015. Sejak saat itu, JS berada di bawah perlindungan KBRI Phnom Penh. JS berhasil kabur dari Kamboja pada 7 Mei 2015 karena khawatir akan keselamatan dirinya. 
 
Ternyata JS mengaku sebagai orang yang mengirimkan surat elektronik secara anonim kepada KBRI dengan menggunakan nama samaran Irwan Gunawan. Surat elektronik itu berisi laporan mengenai adanya 23 WNI yang disekap secara ilegal di Dai Long Co. Ltd. 
 
Hingga saat ini, tinggal 10 orang WNI yang ditahan oleh pihak berwenang setempat. Mereka pun didesak untuk dibebaskan karena tidak ada bukti yang mereka menunjukkan mereka melakukan penggelapan uang.
 
Yang menjadi keanehan saat ini adalah jumlah ganti rugi yang diminta oleh bos judi dari kasino itu. Pada 23 Mei 2015, KBRI mengikuti mediasi Jaksa Tinggi Pengadilan Provinsi Kandal, Lim Sokuntha, antara JS dengan perwakilan pihak kasino Dai Long Co. Ltd. 
 
Dalam pertemuan di tempat netral, Restoran Le President, di Phnom Penh, Jaksa Tinggi menemukan bahwa kesepuluh orang WNI yang ditahan tidak ikut terlibat sebagaimana yang dituduhkan pihak kasino. 
 
Kemudian dibahas pula ganti rugi yang harus dibayar JS kepada bos judi. Sedianya JS harus membayar ganti rugi sebesar Rp200 juta, namun tiba-tiba jumlahnya berubah setelah pihak perusahaan bertemu dengan jaksa, tiba-tiba saja jumlahnya melonjak. Besarnya nilai ganti rugi yang dituntut perusahaan adalah sebanyak USD 200 ribu atau sekitar Rp2,6 miliar. Ganti rugi itu termasuk USD170 ribu atau sekira Rp2,1 miliar untuk penggelapan uang dan USD30 ribu untuk kerugian material.
 
"JS kemudian dikonfrontasi oleh pihak kasino dengan menggunakan bahasa bukan Bahasa Inggris (kemungkinan bahasa Tiongkok Hokkian dan Kanton), yang menyebabkan JS mengakui bahwa dirinya bertanggung jawab atas kerugian yang diderita kasino sebanyak 1,3 miliar rupiah," sebut Dubes Pitono Purnomo, dalam keterangan tertulis KBRI Phnom Penh, yang diterima Metrotvnews.com, Kamis (28/5/2015).
 
"Jumlah ini mencapai 70 persen dari tuntutan semula 2,1 milyar rupiah. Percakapan tersebut telah direkam KBRI untuk arsip kekonsuleran apabila sewaktu-waktu diperlukan," lanjutnya.
 
Karena kesimpangsiuran penanganan kasus ini, pihak KBRI pun melayangkan protes kepada kementerian luar negeri. Selain itu Dubes Pitono juga memastikan pihaknya akan terus mengawal penyelesaian kasus ini dan memastikan agar seluruh WNI yang terlibat di dalamnya menerima perlakuan yang adil, sambil tetap menghormati proses hukum yang berlaku di Kamboja dan prinsip-prinsip dalam Konvesi Wina 1961 dan 1963.



(FJR)

Istri Besuk Setya Novanto di Rutan KPK

Istri Besuk Setya Novanto di Rutan KPK

1 hour Ago

Keluarga telah diizinkan untuk membesuk Setya Novanto di Rutan KPK. Istri didampingi dua kolega…

BERITA LAINNYA