Dunia Pendidik tidak Steril dari Kejahatan

Yogi Bayu Aji    •    Jumat, 29 May 2015 09:06 WIB
ijazah palsu
<i>Dunia Pendidik tidak Steril dari Kejahatan</i>
Ketua harian Komisi Nasional untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arief Rachman (tengah) ketika menjadi pembicara pada Forum Kebijakan Internasional, Jakarta, Selasa (20/8). (FOFO: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Mentrotvnews.com, Jakarta: Gelar doktor palsu yang diduga digunakan anggota DPR Frans Agung Mula menggemparkan publik. Kasus ini diharapkan membuka mata pemangku kepentingan di dunia pendidikan.

"Saya tak terkejut tapi kecewa, prihatin. Pesan saya, jangan anggap dunia pendidikan steril dari kejahatan," kata Pengamat Pendidikan Profesor Arief Rahman kepada Metrotvnews.com, Kamis (28/5/2015) malam.

Dia meminta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa menjaga dunia pendidikan di Indonesia dari tangan-tangan tak bertangung jawab. "Dunia pendidikan harus dijaga dengan ketat rambu-rambunya. Harus ada pengawasan," tekan dia.

Menurut dia, munculnya kasus ini tak lepas dari kultur yang dipegang sebagian besar masyarakat yang mementingkan status dibandingkan tanggung jawab. "Ini golongan orang yang cari uang, status, fasilitas, cari popularitas. Tipologinya itu mau-mau dan berani langgar etika," jelas ungkap Guru besar di Universitas Negeri Jakarta tersebut.

Kasus gelar palsu, kata Arief, sudah lama terjadi dan pernah ada peristiwa serupa di seluruh dunia. Dia berharap kasus ini bisa menjadi bahan pelajar bagi bangsa ini. Selain itu, masyarakat juga diminta tak gelap mata dan mencari yang mudahnya saja. "Sebab, orang yang plagiat dan memalsukan itu kalau dites lalu ditanya pasti keteteran," pungkas dia.

Sebelumnya Denty Noviany Sari, staf anggota DPR Frans Agung Mula, melaporkan atasannya ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) pada Maret 2015. Hal itu dilakukan karena Frans tanpa penjelasan memutuskan hubungan kerja terhadap Denty.

Ketika bersiap melaporkan ke MKD, Denty ingat Frans disebutnya memakai gelar palsu. Hal itu telihat karena anggota DPR dari Dapil I Lampung ini menambah gelar doktor di kartu nama resmi DPR.

Padahal, setahu Denty, Frans belum menyelesaikan sama sekali program doktoralnya. Perintah pemesanan kartu nama dengan tambahan gelar doktor diberikan Frans kepada Denty dalam notes yang ditulis tangan.

Frans membantah tuduhan itu. Dia mengaku sedang mengenyam pendidikan Strata 3 di Universitas Satyagama dan saat ini tinggal melalui tiga tahapan untuk mendapatkan gelar doktor.

"Saya tidak pernah membuat ijazah atau memalsukan ijazah dari lembaga pendidikan resmi dan saya tidak pernah menggunakan gelar doktor tersebut dalam kepentingan ketatanegaraan atau kepentingan formal institusi DPR RI," kata dia.


(OGI)