Bangun Smelter Nikel, Nilai Tambah Naik Hingga Rp4 Triliun

Husen Miftahudin    •    Sabtu, 30 May 2015 09:34 WIB
smelter
Bangun Smelter Nikel, Nilai Tambah Naik Hingga Rp4 Triliun
Menteri Perindustrian Saleh Husin (MI/ROMMY PUJIANTO)

Metrotvnews.com, Morowali: Pembangunan pengolahan dan pemurnian hasil tambang (smelter) nikel di Morowali, Sulawesi Tenggara, menjadi contoh realisasi hilirisasi pertambangan. Langkah ini mendongkrak nilai tambah hingga Rp4 triliun dan merangsang investasi asing serta menciptakan lapangan kerja baru.

"Saat ini, jumlah tenaga kerja langsung di smelter Morowali sebanyak 5.000 orang. Di 2017 nanti, setelah unit produksi beroperasi maka tenaga kerjanya mencapai 12 ribu orang," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin, saat mendampingi Presiden Jokowi meresmikan smelter milik PT Sulawesi Mining Investment (SMI), seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, di Morowali, Sabtu (30/5/2015).

Saleh memaparkan, investasi smelter nikel tahap I ini menelan biaya sebesar USD635,57 juta, dengan dukungan tenaga uap sebanyak 2x65 megawatt (mw). Pabrik ini mampu menghasilkan sebanyak 300 ribu ton per tahun. Sedangkan untuk tahap II, pabrik smelter ini menelan biaya sebesar USD1,04 miliar, dengan kapasitas sebanyak 600 ribu ton dan dukungan tenaga uap hingga 2x150 mw. Diperkirakan pabrik ini selesai pada Desember tahun ini.

"Pada saat ini nilai investasi secara keseluruhan sebesar USD2 miliar, maka penyerapan tenaga kerja sejumlah 5.000 orang," papar dia.

Saleh melanjutkan, nantinya pabrik tahap ketiga yang rencananya memiliki kapasitas 300 ribu ton dengan dukungan PLTU 300 mw diharapkan dapat diselesaikan pada akhir 2017, dengan nilai investasi sebesar USD820 juta.

"Sehingga secara total, keseluruhan kapasitas industri Nikel Pig Iron di Kabupaten Morowali akan mencapai 1,2 juta ton per tahun, yang didukung PLTU sebesar 730 mw," terang dia.

Smelter terintegrasi ini akan mendorong pengembangan industri-industri turunan dari stainless steel yang diperkirakan berjumlah 60 perusahaan industri baru. Pembangunan industri itu memerlukan investasi sebesar USD5,61 miliar.

"12 ribu tenaga kerja itu adalah tenaga kerja langsung di SMI. Artinya, penciptaan tenaga kerja akan terus meluas seiring lahirnya industri-industri turunan," ungkap Saleh.

Sementara itu, Presiden Direktur SMI Alexander Barus merinci, industri berikutnya yang akan dikembangkan ialah industri stainless steel dengan kapasitas sebesar 2 juta ton, yang  ditargetkan rampung akhir 2017 dan diiringi dengan pembangunan industri Stainless Steel Cold Rolled Coils (CRC) dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun serta industri Stainless Steel Hot Rolled Coils (HRC). 

"Industri-industri turunan itu akan membutuhkan suplier, kebutuhan logistik dan akomodasi. Serapan tenaga kerja tak langsung akan terus berlanjut," pungkas Alex


(ABD)