Berkunjung ke Desa Kasongan, Desa Wisata Gerabah di Bantul

Patricia Vicka    •    Sabtu, 30 May 2015 11:35 WIB
kerajinan
Berkunjung ke Desa Kasongan, Desa Wisata Gerabah di Bantul
Foto: Gerabah di Desa Kasongan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta/MTVN_Patricia Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Menikmati akhir pekan, tak ada salahnya berwisata sambil belajar hal baru di Desa Kasongan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Kasongan sudah lama dikenal sebagai desa sentra industri kerajinan keramik dan gerabah dari tanah liat terbesar di Yogyakarta. Pengunjung tak hanya bisa melihat ribuan gerabah dan kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, namun juga bisa belajar membuatnya.

Tak sulit menemukan desa seluas 49 hektare ini. Dari Jalan Raya Bantul KM 5,6 pengunjung akan melihat gapura besar berwarna merah tanah liat yang diapit patung kuda. Masuk ke Desa Kasongan, tampak warga sibuk dengan gerabah di depan rumahnya. Kepulan asap dan bunyi suara mesin pemutar tanah lihat pun mewarnai pemandangan unik ini.

Meski sedang sibuk membuat gerabah, warga selalu ramah menyapa pengunjung. Kepala Desa Kasongan, Nangsib Muhhadi Suprojo mengatakan hampir 95 persen warga Kasongan bekerja sebagai perajin gerabah.


"Tahun 2015, dari 1483 jiwa di sini, 95 persen perajin. Sedangkan 5 persen sebagai PNS dan petani," kata Nangsib saat ditemui Metrotvnews.com di Desa Kasongan, Bantul, DIY, Jumat (29/5/2015).

Tak hanya berbentuk guci dan pot, keramik tanah liat ini pun dibentuk berbagai macam. Mulai dari hiasan berbentuk tumbuh-tumbuhan, hewan, patung, asbak, gantungan kunci, hingga perabot rumah tangga ada di sini.

Proses pembuatan gerabah terbagi dua cara yakni pembuatan cetak dan cara tradisional menggunakan tangan. Pembuatan gerabah dengan tangan adalah teknik paling sulit namun paling seru dicoba.

Awalnya bahan tanah liat tak berbentuk diletakkan diatas alat pemutar bernama Perbot. Ketika Perbot berputar tangan kanan perajin mulai membentuk gerabah sedangkan tangan kiri untuk memutar perbot. Jari jemari pengrajin dengan lincah merubah gumpalan tanah liat membentuk gerabah dengan berbagai macam rupa dan ukuran sesuai dengan imajinasi. Butuh ketelitian dan kesabaran untuk membuatnya.

Gerabah yang sudah terbentuk akan melalui proses panjang. Gerabah mentah harus dijemur di bawah terik matahari hingga empat hari. Kemudian gerabah dibakar agar menjadi padat, keras, dan kuat. Proses Pembakaran bisa dilakukan dengan dua langkah yakni menggunakana jerami atau menggunakan tungku. Tahap akhir atau proses finishing yakni pengecatan agar warna lebih menarik dan juga pembentukan motif di dasar gerabah agar bernilai jual tinggi.

Dengan kegigihan dari para warga serta bantuan promosi dari pemerintah, kini hasil kerajinan tangan desa Kasongan telah terkenal dan di ekspor ke manca negara.

"Negara tujuan eksport kita ada di Amerika, Eropa dan Australia. Komposisi ekspor bahkan sekarang lebih besar dari penjualan dalam negri perbandingannya 60 persen ekspor sedangkan 40 persen dalam negeri," ujarnya.

Karena sudah terkenal ke luar negri dalam sebulan pengrajin di desa ini bisa mendapatkan omzet 10 hingga miliaran rupiah. "Tergantung besar kecilnya usaha si perajin. Kami ke luar negri dibantu sama perantara pedangan juga. Beberapa perajin ada juga yang mempromosikan lewat internet," pungkasnya.

 


(TTD)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA