Korban Perdagangan Manusia tak Bisa Dipidanakan

Ahmad Mustaqim    •    Minggu, 31 May 2015 15:22 WIB
perdagangan manusia
Korban Perdagangan Manusia tak Bisa Dipidanakan
Diskusi membahas Rohingya, di Jakarta. Antara/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Korban perdagangan manusia tak bisa dipidanakan. Pernyataan itu ditegaskan pelaksana tugas Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, dalam sebuah pelatihan, di Yogyakarta, Minggu (31/5/2015).

Kementerian Luar Negeri mengadakan pelatihan identifikasi korban trafficking dan korban bencana bagi pejabat dan staf pada 1 hingga 5 Juni 2015 mendatang.

Pelatihan yang melibatkan 45 pejabat dan staf dari 26 perwakilan RI di luar negeri itu bertujuan menguatkan sumber daya manusia untuk melindungi WNI yang menjadi korban perdagangan manusia. 

Pelatihan akan diisi dari UNODC, Organisasi Buruh Internasional (ILO), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), serta Pusat Kesehatan dan Kedokteran Polri.

Lalu berharap pelatihan ini bisa meningkatkan kapasitas para diplomat di lapangan. "Mereka akan diberikan tes bagaimana menangani perdagangan manusia. Selain itu, ada LSM yang melakukan advokasi buruh juga dilatih. Kadang, mereka lebih dulu dari KBRI," katanya.

Menurutnya, persoalan perdagangan manusia sudah banyak dialami WNI. Tercatat ada 196 WNI yang menjadi korban perdagangan manusia pada 2015 ini. Hingga kini, Kemenlu mencatat masih banyak WNI yang diduga menjadi korban, baik perempuan maupun laki-laki.

Ia mencontohkan, bulan lalu, ada sebanyak 55 orang WNI ditangkap pemerintah Myanmar. Mereka dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara. Kemenlu sempat mendatangi Myanmar bersama tim untuk mengadvokasi mereka dan memberitahu ada sembilan orang menjadi korban perdagangan manusia.

"Korban perdagangan manusia tidak boleh dipidanakan. Proses identifikasi menjadi sangat penting," kata dia.

Pelatihan juga dilakukan untuk bisa mengindentifikasi WNI korban perdagangan manusia. "Kita ingin menyelesaikan masalah di hulu dan hilirnya," ucapnya.



(UWA)