Myanmar Larang Media Dekati Tempat Ditahannya 700 Pengungsi

Willy Haryono    •    Minggu, 31 May 2015 16:40 WIB
rohingya
Myanmar Larang Media Dekati Tempat Ditahannya 700 Pengungsi
Angkatan Laut Myanmar bersiaga di perairan Irrawaddy dekat pulau Haigyi, 30 Mei 2015. AFP / Ye Aung Thu

Metrotvnews.com, Thamee Hla: Angkatan Laut Myanmar melarang jurnalis mendekati sebuah pulau terpencil tempat ditahannya lebih dari 700 pengungsi yang dikabarkan telah diselamatkan sepekan lalu.

Awak media berusaha memasuki pulau Thamee Hla di kawasan Irrawaddy sejak otoritas Myanmar mengumumkan 727 orang, termasuk 74 wanita dan 45 anak-anak, ditemukan terombang-ambing di sebuah kapal di pesisir Myanmar. 

Para imigran itu diduga kuat bagian dari eksodus kaum etnis minoritas Rohingya dan pengungsi Bangladesh yang berusaha pergi ke luar negeri untuk mencari kehidupan layak. 

Reporter yang berusaha menaiki kapal kecil ke Thamee Hla diminta berputar arah oleh kapal patroli. Menurut seorang reporter AFP, Minggu (31/5/2015), seluruh rekaman video serta foto awak media dalam perjalanan tersebut juga diminta dihapus.

Mereka yang disuruh pulang juga diminta menandatangani perjanjian untuk tidak pernah berusaha mendekati pulau tersebut. 

Karena Myanmar menolak menyebut istilah Rohingya, belum ada satu pun media yang dapat mengonfirmasi dari etnis atau negara mana pengungsi di pulau itu berasal. 

Kapal imigran adalah topik sensitif di Myanmar. Penemuan dua kapal berisi banyak pengungsi dalam beberapa pekan terakhir semakin memperkeruh hubungan Myanmar dengan Bangladesh.

Myanmar menolak mengakui 1,3 juta etnis Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine sebagai warga negara. Mereka menyebut Rohingya sebagai "Bengali" yang dituding sebagai imigran gelap dari Bangladesh. 

Rohingya menghadapi diskriminasi setiap harinya, termasuk masalah aktivitas, jumlah keluarga dan kesempatan bekerja. Karena hal inilah, puluhan ribu Rohingya melarikan diri ke luar negeri, biasanya ke Malaysia. Eksodus ini meningkat drastis setelah 2012, saat sejumlah Rohingya tewas dalam kekerasan komunal di Rakhine. 



(WIL)