Susahnya Mengakses Musala dan Toilet di Stasiun Commuter Line

Wandi Yusuf    •    Senin, 01 Jun 2015 00:04 WIB
kereta api
Susahnya Mengakses Musala dan Toilet di Stasiun Commuter Line
Beberapa pria dewasa masuk ke dalam toilet pria dan wanita ya ng digabung menjadi satu di Stasiun Depok Lama, Depok, Jawa Barat, Selasa (25/11/2014). MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Perlu diakui jika pelayanan kereta commuter line Jabodetabek sudah semakin baik. Stasiun sudah bebas dari pedagang kaki lima. Waktu keberangkatan dan kedatangan yang relatif sesuai jadwal. Petugas informasi juga sigap memberitahu lokasi stasiun pemberhentian.

Namun, kenyamanan itu tak lengkap karena masih minimnya musala dan toilet di setiap stasiun. Apalagi bagi pengguna jarak jauh. Terkadang kesulitan mencari musala untuk sholat magrib yang waktunya sangat pendek.

Perjalanan sekitar satu jam pun tak jarang membuat kantung kemih kerap kali terasa penuh. Begitu tiba di stasiun yang dituju, kadang kita belingsatan mencari di mana toilet terdekat.

Wita, 30, penumpang asal Cilebut ini selalu mengeluhkan ketika tiba di Stasiun Sudirman. "Toilet ada di ujung barat peron, sedangkan pintu keluar jauh di ujung timur peron," kata dia, Minggu (31/5/2015).

Sejak dibenahi, toilet di Stasiun Sudirman ditempatkan di ujung peron. Sayangnya, hanya satu ujung peron yang ada toilet, di ujung lain, terutama di pintu masuk justru tak ada.

"Padahal, dulu dekat pintu masuk. Sekarang malah ditempati gerai waralaba. Termasuk mushola," keluh Wita.

Nindya, 33, ibu dua anak ini juga mengeluhkan susahnya menemukan toilet di Stasiun Tanah Abang. "Setelah perjalanan dari Depok, anak saya kebelet pipis. Kebetulan kami naik di gerbong paling depan, ternyata toiletnya ada di pintu masuk dekat gerbong paling belakang," keluhnya.

Pantauan Metrotvnews.com, di Stasiun Tanah Abang toilet memang hanya berada di pintu masuk. Di sana bertumpuk dua toilet. Satu di peron yang arah ke Serpong, terletak di lantai bawah, dan satu lagi di peron arah Depok-Bogor yang berada di lantai dua.

Wajar jika Nindya mengeluh karena dia dan anaknya harus berjalan cukup jauh, sekitar 100 meter ke arah pintu masuk dan harus naik tangga untuk menjangkau toilet.

Perjuangannya tak sampai di situ, ia pun harus berjalan 100 meter untuk kembali ke pintu keluar. Di Stasiun Tanah Abang pintu masuk berjauhan dengan pintu keluar.

Lokasi ini juga sama dengan mushola yang hanya ada di pintu masuk. Itu pun tempatnya seadanya memakai lahan kosong dan terlihat oleh orang yang lalu-lalang.


(Di sini lokasi musala dadakan di Stasiun Tanah Abang. MI/Ramdani)

Di Stasiun Depok Baru kondisinya juga sama. Toilet memang berada di tengah-tengah stasiun, namun hanya terdapat di peron satu. Bagi penumpang dari Jakarta menuju Depok, terpaksa harus menyeberang peron untuk bisa menjangkau toilet.

Di Stasiun Bogor, sebelum dibangun toilet di dekat pintu masuk, penumpang harus mengakses jauh ke ujung timur peron. Padahal, pintu masuk dan keluar dipusatkan di ujung barat peron.

Kondisi yang sama juga terjadi di Stasiun Manggarai. Toilet dan mushola hanya ada di ujung timur stasiun. Sementara pintu masuk dan keluar dipusatkan di bagian barat.

Manajer Humas PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa mengatakan toilet dan mushola hanya faktor pendukung di setiap stasiun. "Ketersediaannya sangat terbatas. Kita sesuaikan dengan space yang ada di setiap stasiun," kata Eva saat dikonfirmasi.

Meski begitu, seiring bertambahnya penumpang maupun keluhan mengenai fasilitas pendukung itu, bukan tak mungkin keberadaan toilet dan mushola dievaluasi. "Penempatannya pun kita atur berdasarkan jumlah penumpang," ujarnya.

Eva mengatakan sudah memberi fasilitas pendukung saja sudah bagus. "Yang penting sudah disediakan dulu. Tak mungkin juga bangun masjid di stasiun," pungkasnya.
 


(UWA)

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

11 hours Ago

Politikus Hanura Miryam S Haryani mengaku mencabut seluruh isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) d…

BERITA LAINNYA