Keteladanan untuk Spirit Kebangsaan

   •    Selasa, 02 Jun 2015 08:30 WIB
pancasila
Keteladanan untuk Spirit Kebangsaan

SEBAGIAN besar ketidakmampuan anak bangsa ini memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan merawat warisan terbaik dari masa lalu. Legacy yang diupayakan dengan susah payah oleh para pendiri bangsa kerap dianggap sebagai bagian masa lalu yang usang.

Tengoklah ketika banyak elite di Republik ini menanggalkan begitu saja warisan termahal para pendiri bangsa, yakni karakter bangsa yang dirumuskan lewat Pancasila. Ketika suatu golongan dibiarkan diberangus di altar kebencian oleh golongan lain, misalnya, tak banyak yang bisa bangsa ini lakukan.

Padahal, para pendiri bangsa sudah mencontohkan bagaimana mereka berempati terhadap sejarah pengorbanan rakyat sehingga membuat mereka memiliki jiwa kepahlawanan. Lihatlah begitu heroiknya mereka saat berpidato menyerukan kemerdekaan dengan dasar negara Pancasila yang diidealisasikan di tengah bala tentara Jepang bersenjatakan bayonet.

Tidak mengherankan jika banyak yang mengkritik kita mengalami amnesia yang parah tentang makna kemerdekaan dan perjuangan melahirkan ideologi kebangsaan.

Sebagai warisan yang digali dan dirumuskan bersama, Bung Karno meyakini keampuhan Pancasila sebagai leitstar atau bintang pimpinan. Sebagai bintang pimpinan, kata Bung Karno, Pancasila adalah satu alat mempersatu bangsa dari Sabang sampai ke Merauke.

Bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan negara RI, melainkan juga pada hakikatnya satu alat mempersatu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit yang kita lawan berpuluh-puluh tahun, yaitu imperialisme. Namun, akibat penyelewengan atas nilai-nilai Pancasila itu, peran Pancasila sebagai bintang pimpinan itu pun redup.

Karena itu, kita mengapresiasi sangat tinggi langkah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan yang mencanangkan gerakan 'Ini Baru Indonesia' saat memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2015. Gerakan tersebut, kata Ketua MPR, sebagai cara baru untuk mengingatkan pentingnya nilai-nilai kebangsaan.

Cara baru yang dimaksud adalah model mengingatkan pentingnya nilai-nila kebangsaan secara lebih simpel, kreatif, dan kekinian. Tujuannya untuk merangkul seluruh komponen masyarakat agar membawa nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam manifesto gerakan itu di antaranya tertulis 'Dari Sabang sampai Merauke kita akan melihat lebih banyak lagi senyum ramah dan tegur sapa, gotong royong dan tolong menolong. Kesantunan bukan anjuran tapi kebiasaan, kepedulian menjadi dorongan.

Dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh, berkeringat karena semangat, kerja keras menjadi ibadah, ketaatan menjadi kesadaran, kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan.

Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarnya, tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati, keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia yang sesungguhnya.

Namun, beberapa kali di forum ini kita sampaikan bahwa gerakan apapun tidak boleh sekadar panas di awal lalu pelan-pelan redup oleh rutinitas. Yang celaka ialah bila gerakan yang hebat itu minim keteladanan dari para elite.

Dalam masyarakat kita yang masih mengedepankan patronase, keteladanan elite merupakan cara paling efektif untuk menjadikan gerakan sebagai kesadaran kehidupan. Tanpa itu, gerakan apapun kerap berhenti menjadi slogan kosong.

Rakyat sudah lama merindukan keteladanan. Mereka butuh teladan untuk mengedepankan kepentingan bangsa ketimbang kepentingan lainnya, teladan untuk jujur tanpa pura-pura, teladan untuk berkorban demi kemaslahatan bersama.


Pengamanan Setnov di RSCM Berkurang

Pengamanan Setnov di RSCM Berkurang

54 minutes Ago

Ketua DPR Setya Novanto masih menjalani perawatan intensif di RSCM, Jakarta Pusat. Pengamanan d…

BERITA LAINNYA