Kadin Gandeng Perguruan Tinggi Swasta Hadapi MEA

Husen Miftahudin    •    Kamis, 04 Jun 2015 13:38 WIB
mea 2015
Kadin Gandeng Perguruan Tinggi Swasta Hadapi MEA
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto (kiri) (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengusaha di dalam negeri mulai sibuk mempersiapkan diri dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Persiapan yang dilakukan ini menjadi penting agar industri dalam negeri siap menghadapi gempuran produk yang datang dari luar negeri, yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih terpuruk dibanding negara ASEAN lainnya. Hal ini yang menjadi perhatian para pengusaha untuk menggenjot peningkatan kualitas SDM menghadapi MEA tersebut.

Ketua Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengungkapkan, untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut, pihaknya menggandeng Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) agar kualitas SDM mampu menciptakan inovasi dalam mengembangkan teknologi industri nasional.

"Penandatanganan ini akan membuka peluang-peluang, misalnya bisnis itu banyak memerlukan studi seperti studi kelayakan dan studi amdal. Itu memerlukan bantuan universitas. Hingga saat ini kita belum banyak dapat informasi dari universitas yang bisa dimanfaatkan oleh dunia bisnis, maka itu kita bisa mengenal lebih dalam untuk menggali potensial yang bisa diberdayakan," papar Suryo, ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2015).

Sementara itu, Ketua Aptisi Edy Suandi Hamid mengatakan, dengan kerjasama ini kedua belah pihak berkomitmen untuk membangun sinergi antara kebutuhan SDM usaha dan industri dengan perguruan tinggi. Kemudian, mengembangkan kerja sama dengan program beasiswa, program pemagangan, dan program pelatihan kewirausahaan.

"Kalau mencermati banyak negara yang kita sebut negara industri, mereka punya hubungan dunia usaha dan perguruan tinggi begitu erat. CSR ke perguruan tinggi. Risetnya inovatif, temuan baru yang bermanfaat ke pengusaha tapi juga bangsanya," papar dia.

Diakui Edy, pengembangan dunia pendidikan masih kurang. Selama ini, 80 persen pendidikan di perguruan tinggi hanya menitikberatkan pada teori. Sedangkan praktek lapangan, hanya sebesar 20 persen. Padahal dunia kerja membutuhkan kualitas SDM yang mampu diterjunkan langsung ke dunia pekerjaan.

"Tentu bagi dunia usaha berat, ketika menampung perguruan tinggi, masa optimal cukup lama. Dalam kerja sama ini bisa disinkronisasikan," tutup Edy.


(ABD)