Kasus Novel Baswedan, Samad: Seharusnya Ada SP3

Deny Irwanto    •    Kamis, 04 Jun 2015 18:15 WIB
novel baswedanpraperadilan
Kasus Novel Baswedan, Samad: Seharusnya Ada SP3
Pimpinan nonaktif KPK Abraham Samad jadi saksi di sidang Praperadilan Novel Baswedan--Foto: MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad bersaksi dalam sidang praperadilan yang diajukan penyidik KPK Novel Baswedan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam kesaksiannya Samad menjelaskan mengenai pertemuan dirinya dengan mantan Presiden SBY, mantan Kapolri Jenderal Timur Pradopo, dan mantan Mensesneg Sudi Silalahi. Pertemuan itu membicarakan penghentian kasus penembakan yang melibatkan Novel.

Ia mengakui, hasil pertemuan tersebut memutuskan menghentikan kasus Novel. "Betul, ada keputusan seperti itu. Tapi memang belum ada SP3 (surat perintah penghentian penyidikan). Itu jadi persoalan," kata Samad di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Kamis (4/6/2015).

Ketika kedudukan Kapolri diganti Jenderal Sutarman, dia pun kembali mengonfirmasi kabar kasus Novel. Jawaban Sutarman, kata Samad, kedudukannya sama dengan ketika Timur Pradopo.

Pria asal Makassar itu menyesalkan, keputusan SBY yang menghentikan kasus tersebut tidak dibuat surat SP3 oleh Polri. Seharusnya SP3 itu keluar setelah adanya pernyataan dari SBY. "Seharusnyakan begitu, ditindaklanjuti," tandas Samad.

Dalam persidangan kali ini, tim kuasa hukum Novel menghadirkan beberapa saksi. Saksi-saksi yang hadir dalam sidang hari ini, yaitu pimpinan nonaktif KPK Abraham Samad, Taufik Baswedan (kakak kandung), saksi ahli Romo Magnis Suseno (ahli etika hukum), Fahrizal Aziz (ahli hukum pidana), dan Wisnu Broto (ketua RT).

Novel mempraperadilankan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri terkait pengkapan dan penahanan dirinya. Permohonan praperadilan beregister Nomor Perkara 37/PID.PRAP/2015/PN.JKT.SEL. ini meminta majelis hakim agar menyatakan penangkapan dan penahanan atas Novel Baswedan tidak sah.

Novel digelandang penyidik Bareskrim Polri pada 1 Mei dari kediamannya. Novel dijadikan tersangka atas kasus dugaan penembakan pelaku pencurian sarang burung walet saat menjadi Kasat Reskrim Polresta Bengkulu pada 2004. Kasusnya sempat ditunda pada 2012 atas permintaan mantan Presiden SBY.

Namun, kasus ini diusut kembali oleh Polda Bengkulu. Pengusutan kasus dilakukan oleh Bareskrim dengan alasan berdekatan dengan tempat tinggal.


(MBM)