Polda Bentuk Satgas Gabungan Usut Kasus Pembunuhan Mahasiswa UI

Golda Eksa    •    Kamis, 04 Jun 2015 18:35 WIB
pembunuhan
 Polda Bentuk Satgas Gabungan Usut Kasus Pembunuhan Mahasiswa UI
Ilustrasi--MI/Bary Fathahilah

Metrotvnews.com, Jakarta: Polda Metro Jaya dan Polres Depok membentuk satuan tugas gabungan untuk menuntaskan kasus pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Akseyna Ahad Dori, 18. Satgas tersebut bertugas menyelidiki perkara dari awal hingga akhir guna mencari siapa pelaku kejahatan tersebut.

Demikian dikatakan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti kepada wartawan, Kamis (4/6). "Kita sudah berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk dengan UI," kata Krishna, Kamis (4/6/2015).

Tujuan pembentukan satgas untuk mengintensifkan proses penyelidikan. Karena penyidik menyimpulkan korban tewas karena dibunuh, bukan bunuh diri. Kesimpulan didapatkan dari hasil gelar perkara dipadukan sejumlah bukti di lokasi kejadian.

Pihaknya sedang mengumpulkan seluruh barang bukti, seperti dokumen, keterangan saksi ahli, dan menghimpun pernyataan saksi dari keluarga maupun rekan korban.

"Kita akan kerucutkan motif, TKP, dan alibi, sehingga nanti ditemukan fakta-fakta siapa pelakunya. Karena ini tindak pidana, maka kita tingkatkan ke penyidikan. Ini dalam rangka membuat terang peristiwanya," urainya.

Krishna menambahkan, ada beberapa hal yang menguatkan analisis pembunuhan mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Biologi UI itu. Pertama, danau tempat korban ditemukan tewas ternyata dangkal.

"Kalau mau bunuh diri kenapa tidak nyemplung di laut saja. Proses bunuh diri dengan menenggelamkan itu sangat lambat. Kalau mau, bunuh diri loncat dari atap," terang dia.

Juga ditemukannya luka lebam di bagian telinga, kepala, dan bibir. Fakta itu mengindikasikan telah terjadi penganiayaan sebelum korban meninggal.

Selain itu, tambah Krishna, penyidik menemukan kerusakan di bagian belakang sepatu korban. Kerusakan diduga karena korban diseret untuk dimasukan ke dalam air.

Analisis terakhir, imbuh dia, kejanggalan batu pemberat di ransel korban. Ransel tidak diikatkan ke tubuh, tetapi hanya dikaitkan. Akseyna bisa saja menggagalkan upaya bunuh diri dengan melepaskan pengait itu.

"Namun itu tidak bisa dilakukan sebab sesuai pernyataan dokter forensik, korban pada saat masuk ke air sedang tidak sadarkan diri dan masih bernafas. Korban matinya masuk air dan pasir," tandasnya.

Jenazah Akseyna ditemukan di Danau Kenanga UI, 26 Mei lalu. Korban ditemukan dalam kondisi tubuh terdapat luka lebam, serta adanya batu pemberat di dalam tas.

Selang empat hari kemudian identitas korban berhasil diketahui setelah ada orang yang mengaku sebagai keluarganya. Korban adalah Akseyna dan kesehariannya tinggal di sebuah rumah kos di Wisma Widiya 208 di Jl Kabel Tegangan Tinggi Nomor 3, RT04/05, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok.

Bahkan, ada versi lain yang menyebutkan korban sakit hati dan nekat mengakhiri hidup. Pasalnya, korban yang menjuarai lomba olimpiade tingkat regional malah tidak disertakan mengikuti ajang serupa di level nasional.

Lantaran asa bertepuk sebelah tangan, Akseyna diduga melampiaskan emosinya di secarik kertas yang bertuliskan 'will not return for please dont search for existence my apologres for everyting eternally'. Surat wasiat itu ditemukan di dinding kamar kos korban.


(YDH)

KPK Periksa Chairuman Harahap untuk Tersangka Anang Sugiana

KPK Periksa Chairuman Harahap untuk Tersangka Anang Sugiana

1 hour Ago

KPK hingga saat ini terus mengusut terkait kasus korupsi pengadaan proyek KTP-el. Sejumlah…

BERITA LAINNYA