Investasi Besar Industri Tembakau Demi Perekonomian

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 05 Jun 2015 18:02 WIB
tembakau
Investasi Besar Industri Tembakau Demi Perekonomian
Petani tembakau -- ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Metrotvnews.com, Jakarta: Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) menyatakan industri tembakau saat ini sudah berinvestasi sangat besar agar ekonomi tetap terjaga.

"Untuk itu, kami mengharapkan tidak ada gangguan-gangguan yang hanya akan memperpuruk ekonomi yang akhirnya kemudian industri dirugikan," tutur Ketua (GAPPRI) Ismanu Soemiran, dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (5/6/2015).

Dia pun mengkritik Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengenai pernyataannya perihal iklan rokok. Mereka menilai, YLKI dinilai terlalu tendensius dan cenderung tidak mengerti aturan di industri rokok.

"Industri rokok merupakan industri legal dan taat aturan, termasuk aturan soal iklan rokok. Kalangan industri tidak pernah menipu atau melakukan kamuflase atas iklan rokok. Jadi itu bagian periklanan mendesain agar iklan menarik dan itu bukan karangan industri rokok tapi periklanan," jelas Ismanu.

Pihaknya pun sudah mematuhi segala macam peraturan yang berkaitan dengan rokok. Seperti, iklan rokok yang tidak menampilkan kemasan, iklan disajikan dalam rentang waktu tertentu, bahkan aturan kemasan yang dibuat sedemikian menyeramkan.

"Pernyataan atau tulisan yang disampaikan YLKI seringkali tidak tepat. Bahkan tidak murni kepentingan konsumen konsumen tapi lebih mewakili kepentingan tertentu. Saya yakin industri ini sudah berjalan dalam kebenaran karena legal," kritik Ismanu.

Dia mengatakan, dalam UU Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 dan PP 109/2012, iklan rokok tidak boleh menunjukkan wujud rokok bahkan bungkusnya. Oleh karena itu, ucapan YLKI mengenai iklan rokok menipu atau kamuflase tidak sesuai kenyataan.

Dia mengatakan YLKI harus paham bahwa semua iklan selalu menggunakan bahasa-bahasa simbolik. Harusnya YLKI mempertanyakan juga iklan-iklan obat-obatan atau farmasi dan lainnya karena iklan-iklan itu juga memiliki sifat dan model sama.

"Ada iklan adegan orang sakit kepala, terus minum obat sembuh tanpa disampaikan beberapa waktu kemudian, atau tanpa disampaikan efek samping yang berbahaya, dan seterusnya," pungkas Ismanu.


(AHL)