Stok Bawang Merah Aman, Eh Harga Malah Naik

Angga Bratadharma    •    Minggu, 07 Jun 2015 14:31 WIB
harga bawang merah
Stok Bawang Merah Aman, <i>Eh</i> Harga Malah Naik
Ilustrasi (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Metrotvnews.com, Bone: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, stok untuk bawang merah dan cabe sebenarnya berada dalam situasi dan kondisi yang aman dan tidak seharusnya harga dua komoditi ini mengalami lonjakan.

Namun kenyataannya, Amran tak memungkiri bahwa kestabilan harga bawang merah di berbagai daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai terganggu menjelang Ramadan kendati stok masih aman untuk kebutuhan pasar.

"Saya tak mau berspekulasi apa penyebab harga bawang di Sulsel bergejolak, padahal daerah ini memiliki sentra produksi bawang merah. Karena itulah saya harus turun langsung untuk mencari tahu apa penyebab harga terus bergerak naik," ujar Mentan Amran, dalam keterangan tertulisnya, di Bone, Minggu (7/6/2015).

Dalam sidaknya di Pasar Tradisional Terong, Makassar, para pedagang mengaku pada Menteri Amran bahwa permintaan terus meningkat, namun tidak berani menjual banyak karena harga dari pengumpul juga naik terus.

Di Pasar Tradisional Terong, Mentan Amran mendapati harga bawang merah lokal dari Bantaeng Rp16 ribu-Rp20 ribu per kilogram. Sedangkan bawang dari Bima (lebih harum) Rp40 ribu per kilogram.

"Sulsel memiliki stok sekitar 5.000 ton, sedangkan harga bawang di tingkat petani antara Rp17.000 sampai Rp20.000 per kilogram. Sekarang Sulsel menghadapi musim panen bawang sekitar 500 hektare, produksinya itu bisa menutupi kebutuhan lebaran," kata Mentan Amran.

Seperti diketahui, di Sulsel ada tiga daerah penyuplai bawang merah terbesar yakni Kabupaten Enrekang, Bantaeng dan Jeneponto. Produksi dari sentra penghasil bawang di daerah pegunungan Enrekang sebesar 33.017 ton, Bantaeng 5.031 ton dan Jeneponto 1.224 ton.

Produksi bawang Sulsel tak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, selama ini juga dipasarkan ke Kalimantan dan daerah lainnya. Panen raya bawang merah di Sulsel berlangsung Januari hingga Februari, tetapi produksi tetap ada sampai Agustus, bahkan petani di Enrekang dan Jeneponto sepanjang tahun menghasilkan bawang merah.

Mengingat stok yang masih aman, Mentan Amran berharap sama sekali tidak dibutuhkan impor meskipun rekomendasi impor bawang merah dari Kementerian Pertanian sudah dinanti oleh Kementerian Perdagangan.

"Untuk bawang merah, impor adalah pilihan terakhir bila memang benar-benar diperlukan. Tapi saya harap tidak perlu impor, karena stok kita cukup hingga Lebaran. Kita lihat saja nanti," pungkas Mentan Amran.


(ABD)