Bukan Mencari Manusia Separuh Dewa

   •    Senin, 08 Jun 2015 06:06 WIB
kpk
Bukan Mencari Manusia Separuh Dewa

BANYAK orang membayangkan Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi bakal kesulitan mencari kandidat komisioner KPK. Sulit karena orang enggan mendaftar antara lain lantaran khawatir dikriminalisasi seperti dua pemimpin KPK saat ini, Abraham Samad dan Bambang Widjodjanto. Juga sulit lantaran orang-orang baik yang pantas menjadi pimpinan lembaga antirasywah itu enggan menyodor-nyodorkan diri dan mendaftar sebagai calon komisioner KPK.

Bayangan bahwa orang enggan mendaftar sebagai calon pimpinan KPK karena khawatir dikriminalisasi tertepis pada hari pertama pembukaan pendaftaran Jumat (5/6) lalu. Hari itu 11 orang mendaftar. Ada aktivis, pemgacara, juga pengusaha. Bahkan seorang di antaranya perempuan. Ihwal kriminalisasi, ada yang mengusulkan agar pimpinan KPK mendatang memiliki hak impunitas.

Kita tidak sependapat dengan ide itu karena pada dasarnya semua warga negara setara hak dan kedudukannya di hadapan hukum. Lagi pula, sesungguhnya tidak ada sama sekali kriminalisasi pimpinan KPK. Pimpinan KPK saat ini dijadikan tersangka karena mereka memang dituduh dengan bukti-bukti memadai telah melakukan pelanggaran pidana.

Selain itu, impunitas bagi pimpinan KPK bukanlah domain pansel. Lebih baik pansel berkonsentrasi menjaring orang-orang baik untuk memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi kelak. Orang-orang baik ialah mereka yang punya rekam jejak bersih, tidak pernah melakukan perbuatan tercela, berintegritas, punya kemampuan manajerial, memiliki komitmen dan kompetensi di bidang pencegahan dan pemberantasan korupsi, serta punya kemampuan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan sesama penegak hukum.

Di luar kemampuan teknis dan manajerial, orang-orang baik semestinya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka tidak punya ambisi politik yang menyebabkan mereka menjadikan posisi pimpinan KPK sekadar anak tangga menuju jabatan politik berikutnya. Ambisi mereka cuma satu, yakni mengenyahkan korupsi dari peta Indonesia. Tentu sangat sulit mencari orang sekomplet itu, ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Pansel KPK memang semestinya tidak berpretensi mencari manusia-manusia separuh dewa untuk menduduki jabatan komisioner KPK. Pansel KPK semestinya mencari dan menyusun formasi dan komposisi pimpinan KPK yang memenuhi syarat ideal bagi suksesnya pencegahan dan pemberantasan korupsi. Artinya, pansel mencari orang per orang calon yang kelak bisa saling melengkapi sehingga syarat ideal itu bisa terpenuhi.

Oleh karena itu, pansel, sebagaimana janjinya, harus bekerja keras menjemput orang-orang baik, bila perlu hingga ke pelosok. Kita juga mendorong publik menyodorkan kepada pansel nama-nama orang baik yang pantas mendapat kehormatan mencegah dan memberantas korupsi di negeri ini. Proses seleksi oleh pansel saat ini bermuara pada terpilihnya empat dari lima pemimpin KPK. Proses seleksi sebelumnya sudah menghasilkan dua calon pemimpin KPK yang akan dipilih salah satunya, yakni antara Busyro Muqoddas dan Robby Arya Brata.

Pansel yang terdiri dari sembilan perempuan itu akan mengajukan sejumlah nama ke Presiden. Presiden kemudian mengajukan delapan di antaranya ke DPR. Komisi III DPR lantas memilih empat dari delapan kandidat. Titik krusial seluruh proses seleksi terjadi di Komisi III.

Kita ingin DPR membebaskan diri dari kepentingan politik sehingga yang kelak terpilih memimpin KPK benar-benar orang-orang baik. Bila proses seleksi pimpinan KPK gagal menghasilkan orang-orang baik, kita harus siap malu sebagai bangsa. Malu karena ternyata bangsa ini tak punya cukup stok orang-orang baik.