Mentan Tegaskan Bakal Penjarakan Spekulan Nakal

Husen Miftahudin    •    Senin, 08 Jun 2015 08:08 WIB
bahan pokok
Mentan Tegaskan Bakal Penjarakan Spekulan Nakal
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kedua kanan). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengaku harga-harga kebutuhan pokok yang menjulang menjelang puasa dan Lebaran diakibatkan oleh para spekulan nakal yang menimbun bahan kebutuhan pokok demi keuntungan pribadi. Melihat hal tersebut, pihaknya menyatakan akan menindak tegas para spekulan yang membuat harga-harga kebutuhan pokok tersebut meninggi.

Namun sebelumnya, ungkap dia, pihaknya akan mengajak bicara para spekulan itu agar tidak melakukan penimbunan yang menyebabkan kenaikan harga. Jika tidak, maka spekulan itu akan ditindak tegas dengan membawa ke ranah hukum.

"Kalau ada spekulan, kita harus ajak bicara. Kalau tidak bisa diajak bicara, ya kita akan selesaikan secara hukum," ancam Amran, saat meninjau stok ketersediaan Pangan dalam rangka hari-hari besar keagamaan di Pasar Induk Kramat Jati, Jalan Raya Bogor KM 17, Jakarta Timur, Senin (8/6/2015).

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel menyatakan hal serupa saat menggelar pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo dan Kepolisian di kantornya beberapa waktu lalu. Rachmat mensgungkapkan, pihaknya akan segera melakukan tindakan tegas bagi para spekulan yang membuat harga-harga bahan pokok semakin tinggi.

"Kami akan bicara dengan mereka dalam dagang boleh untung, tapi jangan memberatkan masyarakat," papar Rachmat.

Maka itu, lanjut dia, pihaknya akan segera memetakan gudang-gudang penyimpanan bahan pokok dengan menentukan batas atas kapasitas. Dengan begitu, pihaknya dapat mengetahui mana gudang yang melakukan penimbunan, mana gudang yang melakukan kegiatan perdagangan secara layak.

"Yang jelas penimbunan menyebabkan harga naik yang dilakukan spekulan. Oleh karena itu kami akan memetakan dimana gudang-gudang yang ada dan berapa yang dibutuhkan gudang itu. Berapa standar kebutuhan bahan pokok itu sendiri," tutur Rachmat.


(AHL)