Kredit Fiktif Bank Jatim di Malang Rugikan Negara Rp10 Miliar

Amaluddin    •    Rabu, 10 Jun 2015 20:42 WIB
Kredit Fiktif Bank Jatim di Malang Rugikan Negara Rp10 Miliar
Logo Bank Jatim, Ant

Metrotvnews.com, Surabaya: Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) membongkar kasus pengajuan kredit fiktif di Bank Jatim Kota Malang, Jawa Timur. Menurut Kepala Polisi Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Anas Yusuf kerugian akibat pengajuan kredit fiktif tersebut sebesar Rp10 miliar.

"Ini pengajuannya memakai lebih dari 100 orang," kata mantan Wakabareskrim Mabes Polri itu, saat merilis kasus tersebut di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (10/6/2015).

Anas menjelaskan, setelah dilakukan penyelidikan terkait kasus tersebut, polisi menetapkan dua tersangka. Yaitu bendahara kantor Kecamatan Kedungkandang Pemerintah Kota Malang dengan inisial WU serta seorang pegawai Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang dengan inisial FD. Peran kedua tersangka tersebut adalah sebagai pemalsu beberapa surat pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dan Surat Keputusan kenaikan pangkat di lingkungan Pemkot Malang.

"Jadi seolah-olah ada PNS yang mengajukan kredit ke Bank Jatim," katanya.

Saat ini polisi masih menyelidiki aliran uang tersebut. Polisi berkeyakinan kedua tersangka melakukan tindakan itu bersama dengan orang lain.

"Kami masih selidiki apakah ada yang terlibat selain mereka termasuk kemungkinan orang dalam dari Bank Jatim," tukas Anas.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim, Kombes Pol Nur Rahman, menjerat dua orang tersangka dengan Pasal 2 UU RI Nomor 2 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Ancaman hukuman maksimal seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun penjara dan denda minimal Rp 200 juta," tambah Rahman.

Selain itu, dua tersangka juga dijerat dengan Pasal 3 perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Amaluddin
(RRN)