Kuasa Hukum: Ibas Tak Mau Campuri Urusan Sutan Bhatoegana

Renatha Swasty    •    Rabu, 10 Jun 2015 23:47 WIB
Kuasa Hukum: Ibas Tak Mau Campuri Urusan Sutan Bhatoegana
Politikus Partai Demokrat, Edi Baskoro Yudhoyono--Antara/Rosa Panggabean

Metrotvnews.com, Jakarta: Edi Baskoro Yudhoyono disebut mantan Ketua Komisi VII DPR RI Sutan Bhatoegana meminta temannya Deni Karmaina dan Eka Putra buat berbicara dengan Sutan dan mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini. Pembicaraan itu supaya PT Timas mundur dalam proyek di SKK Migas.

Tak hanya sekali, Sutan berkicau berkali kali soal Deni, Eka maupun Ibas. Menanggapi itu kuasa hukum Ibas, Palmer Situmorang mengatakan kliennya tak akan mengurusi urusan antara Sutan dan Deni.

"Biar itu urusan antara Bhatoegana dan Deni Karmaina. Ibas tidak ingin ikut campur kalau benar ada pembicaraan tersebut antara Bhatoegana dan Deni Karmaina," kata Palmer pada Metrotvnews.com, Rabu (10/6/2015).

Lebih lanjut Palmer mengatakan Ibas dan keluarga SBY tidak pernah berbisnis di sektor pengadaan BBM dan gas atau perusahaan milik negara atau swasta yang ada kaitannya dengan Pertamina dan anak perusahaannya.

Apalagi, menyuruh Deni buat melakukan pertemuan dengan Rudi dan Sutan terkait PT Timas.

Maski disebut Sutan, Deni mengatasnamakan Ibas dalam pertemuan itu, Palmer mengatakan Ibas tak akan mengurusi.

"Itu urusan mereka, Ibas tidak merasa ada bisnis dengan PT. Timas," pungkas Palmer.

Sebelumnya, Sutan bercerita, ia bertemu dengan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini dan dua teman Ibas, Eka Putra dam Deni Karmaina di Bimasena, Jakarta, sekira Juli 2013.

"Begini, kan tadi saya bilang, yang ngontak saya itu Eka, mengatasnamakan Ibas. Dia bilang Mas Ibas mau ketemu, kalau enggak bisa ketemu Mas Ibas ketemu temannya si Deni, ketemu lah kami," ungkap Sutan di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2015)

Dalam pertemuan itu, Sutan mengaku perusahaan milik rekanan Ibas, PT Rajawali Swiber Cakrawala minta dimenangkan, dan PT Timas minta dikalahkan dalam tender di SKK Migas. Saat itu, Sutan juga ditawarkan sejumlah uang.

"Itu membicarakan 'mengalahkan yang menang dan memenangkan yang kalah', kenapa saya dilibatkan, kalau mau. Lakukan. Saya disogok loh, saya pertama disogok USD5 juta, saya enggak mau, ditambah lagi USD5 juta. Saya baru tahu, saya dapat Rp100miliar, mereka dapat Rp4 triliun," ungkap Sutan.

Sutan juga mengaku, guna mempertahankan kemenangan PT Timas, ia mengontak Rudi Rubiandini. Sebab, surat penunjukkan pemenang sudah ada, hanya saja belum ditandatangani.

Dalam sidang pun, Rudi mengaku dikontak Sutan supaya mengawal PT Timas. "Pak Sutan SMS supaya PT Timas dikawal, supaya yang tendernya sudah rendah tidak dikalahkan," ujar Rudi.

Meski demikian, Sutan merasa benar. Sebab, ia telah mempertahankan kebenaran. Ia berharap KPK segera mengusut perusahaan rekanan Ibas yang telah berbuat korupsi banyak.

"Kan yang menang itu PT Timas, dibilang itu perusahan saya, kan enggak terbukti, bukan soal Timas, yang kita bela yang benar, yang benar siapa, Timas." pungkas dia.
(AZF)