Wabah MERS Melanda, Bank Sentral Korea Pangkas Suku Bunga

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 11 Jun 2015 12:05 WIB
korea selatan
Wabah MERS Melanda, Bank Sentral Korea Pangkas Suku Bunga
Gubernur Bank Sentral Korea Selatan Lee Ju-Yeol. AFP PHOTO/JUNG YEON-JE

Metrotvnews.com, Seoul: Bank Sentral Korea Selatan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke rekor terendahnya di level 1,5 persen pada hari ini.

Seperti dilansir Reuters, Kamis, 11 Juni, pemangkasan ini  karena para pembuat kebijakan berusaha untuk melindungi perekonomian yang terguncang akibat wabah penyakit pernapasan yang mematikan, MERS.

Diketahui, sembilan orang tewas sejak munculnya kasus Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) yang pertama kali dilaporkan pada akhir Mei. Hal ini memicu kecemasan publik dan memukul belanja anggaran, dengan ribuan orang dikarantina dan ratusan sekolah ditutup.

Pembuat kebijakan berada di bawah tekanan untuk mengadopsi langkah-langkah stimulus  karena permintaan global yang lemah dan menguatnya mata uang won sehingga memukul ekspor Korea Selatan.

Bank of Korea (BoK) resmi mengumumkan keputusan komite kebijakan moneter untuk menurunkan tingkat dasar suku bunganya tanpa menjelaskan lebih lanjut. Gubernur Bank of Korea Lee Ju-yeol akan mengadakan konferensi pers pada pukul 11.20 waktu setempat.

Itu adalah penurunan suku bunga keempat dalam waktu kurang dari satu tahun dan pemangkasan ketujuh sejak siklus pelonggaran pada tiga tahun lalu karena ekonomi yang bergantung.

"Tidak akan ada pemotongan suku bunga lebih rendah. Jika penyebaran MERS belum terjadi, penurunan suku bunga akan menjadi beban bagi BoK karena efek samping dari tumbuhnya utang rumah tangga," kata analis pendapatan tetap di NH Investment & Securities, Peter Park.

Park berharap anggaran tambahan segera membantu merangsang ekonomi negeri Gingseng tersebut. Ekonomi Korea Selatan tumbuh 3,3 persen tahun lalu dari 2,9 persen di 2013. Namun pembuat kebijakan mengatakan jika ekonomi masih terlalu rendah dibandingkan dengan rata-rata yang tercatat selama lima tahun sebesar 4,5 persen sebelum krisis global 2008.


(AHL)