Tiga Isu Pangan yang Kompleks di Indonesia

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 11 Jun 2015 13:26 WIB
pangan
Tiga Isu Pangan yang Kompleks di Indonesia
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Peneliti Kebijakan Pangan, Crawford School of Public Policy, Australian National University, John F. McCarthy menyatakan bahwa Indonesia menghadapi tiga isu pangan yang kompleks. Isu pangan ini terjadi akibat adanya tumpang tindih dengan persoalan lain.

Adapun persoalan yang dimaksudkan, yakni pertama, kekhawatiran akan jumlah produksi domestik yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga bergantung pada impor yang harganya fluktuatif di pasaran internasional. 

Kedua, naiknya permintaan komoditas pertanian. Ketiga, Indonesia telah menyatakan komitmennya terhadap program ekonomi hijau dan pembangunan pedesaan rendah emisi.

"Lalu bagaimana kebijakan untuk merespons ketiga isu tersebut bisa berjalan selaras sementara masing-masing mempunyai capaian yang berbeda bahkan berseberangan," ujar McCarthy, dalam siaran pers-nya, di Yogyakarta, Kamis (11/6/2015).

Setidaknya, ada lima paradigma di dalam kebijakan pangan menurut McCarthy. Adapun lima paradigma tersebut pertama, swasembada pangan (food self-sufficiency) sebagai upaya mencapai angka produksi global. Kedua, ketahanan pangan (food security) yang menurut FAO bisa dicapai dengan memperkuat kapasitas penduduk untuk mengakses pangan terutama saat menghadapi rawan pangan dan masa panceklik.

Ketiga, kedaulatan pangan (food sovereignty), yakni dengan membantu petani maupun kelompok tani untuk memiliki akses dan kontrol yang belbih baik atas sumber-sumber pertanian.

Keempat, kebijakan pangan perlu mengarah pada pencapaian hak atas ketersediaan pangan yang memadai sesuai dengan amanat dalam perjanjian internasional. Kelima, memperhatikan prinsip-prinsip lingkungan.

Belakangan Indonesia meletakkan fokusnya pada satu pendekatan saja, yakni swasembada untuk beragam capaian kebijakan pangannya. Pembukaan lahan baru melalui pertanian berskala besar dianggap bisa mencapai tujuan swasembada. Namun, program swasembada belum tentu mampu mendorong tercapainya akses pangan dan kedaulatan pangan.

"Apakah cukup membantu mencapai hak pangan yang memadai? Mungkin baik untuk mengejar target produksi. Namun program tersebut belum tentu bisa memberi akses bagi petani miskin. Apalagi jika dikembangkan oleh perekebunan besar," kata McCarthy.

McCarthy kembali mencatat bahwa kebijakan pangan Indonesia sebenarnya telah memiliki tujuan baik. Namun perhatian pada persoalan akses petani yang rentan terhadap rawan pangan dan hak pangan secara umum bisa diutamakan.

"Penelitian internasional menunjukan ketahanan pangan bisa mencapai hasil terbaiknya apabila program-program pangan pemerintah diarahkan pada pemberdayaan petani. Petani tetap bisa mengolah lahan pertaniannya sembari juga mendiversifikasi mata pencahariannya," pungkas McCarthy.



(ABD)

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

1 day Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA