Driver-nya Diintimidasi, Ini Jawaban GO-JEK

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 11 Jun 2015 18:35 WIB
gojek
Driver-nya Diintimidasi, Ini Jawaban GO-JEK
GO-JEK terbukti sangat membantu masyarakat Jakarta.

Metrotvnews.com, Jakarta: Jika Anda telah lama tinggal di Jakarta, Anda pasti masih ingat masa-masa di mana belum ada aplikasi seperti GO-JEK ataupun GrabBike. Jika Anda ingin naik ojek, Anda harus datang ke pangkalan dan meminta salah satu tukang ojek untuk mengantarkan Anda ke tujuan.

Masalahnya,  tukang ojek yang mangkal kadang-kadang menentukan harga yang tak masuk akal (apalagi kalau mereka tahu kita buru-buru). Untuk menuju tempat yang sama dari tempat yang sama pada jam yang berbeda, Anda harus membayar harga yang berbeda pula. Saya sendiri pernah merasakan hal ini.

Lalu hadirlah GO-JEK. Dengan GO-JEK, Anda dapat memanggil ojek tanpa harus pergi ke pangkalan. Tarif yang harus dibayar pun sudah ditentukan sejak awal. Tidak perlu lagi khawatir kantong terkuras karena tuntutan harga yang tak masuk akan dari para tukang ojek. Hilang pula waktu untuk tawar-menawar. Para tukang ojek yang memutuskan untuk menjadi driver GO-JEK pun mengakui bahwa berkat GO-JEK, penghasilan mereka bertambah.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bahkan menunjukkan apresiasinya untuk GO-JEK. GO-JEK memudahkan pengguna dan juga tukang ojek. Seharusnya semua orang bisa puas. Tapi pada kenyataannya, tidak begitu. Ada sebagian orang yang merasa dirugikan karena keberadaan GO-JEK. Dan mereka adalah tukang ojek pangkalan. Kita sudah melihat banyak kesaksian orang di media sosial beberapa hari ini.

Mungkin Anda sudah pernah mendengar cerita mengenai seorang driver GO-JEK yang diintimidasi para tukang ojek pangkalan karena dirasa "mematikan pasaran". Seolah hal ini tidak cukup buruk, bahkan sang pelanggan pun diintimidasi. Jaket dan helm warna hijau yang menjadi khas driver GO-JEK justru menjadikan para driver GO-JEK menjadi target.



Sam Dian, PR GO-JEK, menyebutkan, GO-JEK tidak berusaha untuk menjadi saingan bagi tukang ojek, mereka justru ingin membantu para tukang ojek tersebut untuk menjadi lebih produktif dengan bantuan teknologi. Hal yang sangat masuk akal sebenarnya, mengingat sekarang ini sebagian besar orang sudah memiliki smartphone.

Inilah jawaban lengkap dari Sam.



Sayangnya, saat ditanya apakah GO-JEK berniat untuk membawa masalah ini ke ranah hukum jika masalah ini berlanjut, Sam menolak untuk menjawab.

Meski GO-JEK sudah mengajak para tukang ojek untuk menjadi driver GO-JEK, tak semua orang mau untuk bergabung. Salah satu alasan mereka adalah karena rendahnya tarif yang ditawarkan GO-JEK jika dibandingkan dengan tarif yang mereka tentukan sendiri.

Mengenai hal ini, seorang driver GO-JEK, Agung, mengatakan bahwa tarif ojek dari Plaza Bapindo ke Hotel Indonesia adalah sekitar Rp50 ribu, sementara GO-JEK hanya memberikan tarif Rp35 ribu.

Sebenarnya, kata Agung, syarat untuk menjadi driver GO-JEK sangat mudah. Seseorang cukup membuat foto kopi dari identitas diri seperti kartu keluarga, surat nikah, ijazah terakhir dan BPKB dan meninggalkan salah satu di antaranya di kantor GO-JEK sebagai jaminan. Dia mengatakan, sekarang ini, setiap hari, ada 100 tukang ojek yang mendaftar untuk menjadi driver GO-JEK.

Terkait intimidasi yang dialami sebagian rekannya, Agung mengaku sudah pernah mendengar cerita tersebut dari temannya. Meski begitu, Agung menolak untuk mundur. Dia bahkan menolak untuk melepaskan jaket hijau yang menjadi penanda bahwa dia adalah seorang driver GO-JEK.

"Kalau memakai jaket, orang bisa jadi langsung tahu kalau saya dari GO-JEK," kata Agung.

Meski tidak pernah dikejar atau diancam, dia mengaku terkadang, saat dia sedang menunggu penumpang, beberapa tukang ojek pangkalan memandang galak ke arahnya. "Mereka kira saya mau ambil pelanggan mereka," kata Agung.

Mengenai masalah ancaman dan intimidasi dari tukang ojek pangkalan, Agung mengaku dia pasrah. "Ya, biasanya yang diisengi adalah orang yang memang suka iseng. Makanya saya enggak mau iseng. Karma," katanya.

Perkembangan GO-JEK memang tergolong cepat. Apalagi sesudah mereka menambahkan layanan pengiriman makanan. Sudah makin sering kita lihat tukang GO-JEK antre makanan di mal atau restoran tertentu untuk kemudian diantarkan ke pemesannya. Mereka juga melayani antar jemput paket dengan harga pasti.

Dari sisi konsumen, keberadaan mereka sebetulnya sangat membantu. Bagaimana menurut Anda?


(ABE)

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

3 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal memberikan jawaban atas gugatan praperadilan Setya Nov…

BERITA LAINNYA