Bank Dunia: Jika Suku Bunga AS Naik, Pinjaman Semakin Mahal

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 11 Jun 2015 19:05 WIB
bank dunia
Bank Dunia: Jika Suku Bunga AS Naik, Pinjaman Semakin Mahal
The Federal Reserve. FOTO: Reuters/Gary Cameron

Metrotvnews.com, Washington: Tantangan berat segera dihadapi oleh negara berkembang pada 2015. Munculnya tantangan tersebut akibat prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi dengan era baru harga minyak dan komoditas penting lain yang lebih rendah.

Naiknya suku bunga di Amerika bisa menyebabkan pinjaman semakin lebih mahal bagi negara berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Proses ini akan berlanjut mengingat pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) terus berlangsung dan suku bunga di negara besar lainnya tetap rendah.

"Semenjak krisis keuangan, negara berkembang adalah mesin pertumbuhan dunia. Tetapi sekarang mereka menghadapi kondisi ekonomi yang lebih sulit," ungkap Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim dalam siaran persnya, Kamis (11/6/2015).

Kemudian harga lebih rendah untuk minyak dan komoditas strategis lainnya telah menyebabkan perlambatan di negara berkembang karena banyak yang bergantung pada ekspor komoditas. Sementara importir komoditas menerima manfaat dari inflasi lebih rendah, tekanan biaya fiskal, dan biaya impor.

Rendahnya harga minyak belum bisa memacu kegiatan ekonomi secara signifikan. Banyak negara tetap menghadapi kekurangan pasokan listrik, masalah transportasi, irigasi, dan layanan infrastruktur penting lainnya, bahaya banjir, kekeringan parah, dan juga ketidakpastian politik.

"Negara yang berpenghasilan rendah sangat bergantung pada ekspor komoditas dan investasi," tambah World Bank Director of Development Prospects, Ayhan Kose.

Menurutnya harga komoditas yang terus rendah akan mempengaruhi para pembuat kebijakan untuk tidak lagi bergantung pada sumber daya alam, pertambangan, dan memprioritaskan bagian ekonomi lainya yang akan mendorong pertumbuhan.

"Risiko prospek negara berkembang akan terus membebani pertumbuhan. Beberapa risiko seperti kemungkinan stagnasi yang berlangsung di kawasan Eropa dan Jepang telah surut. Namun kini risiko-risiko baru muncul," pungkas Ayhan.


(AHL)