Bulog Serap Bawang Merah Brebes Hingga 100 Ton/Hari

Husen Miftahudin    •    Jumat, 12 Jun 2015 18:24 WIB
kementan ads
Bulog Serap Bawang Merah Brebes Hingga 100 Ton/Hari
Sentra produksi bawang di Luwungragi, Brebes. FOTO: MTVN/Husen Miftahudin

Metrotvnews.com, Brebes: Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman menyatakan akan terus menggenjot produksi pangan Indonesia. Meskipun begitu, harga pangan seperti bawang merah terus naik di pasaran, padahal produksi bawang merah sendiri telah melebihi kecukupan dari kebutuhan nasional.

Ia mengaku, hal itu terjadi karena rantai pasok bawang merah yang terlalu panjang. Dari petani lalu ke tengkulak, setelah itu ke pengumpul besar dan sampai di pasar induk. Tak berhenti di situ, dari pasar induk lanjut ke pasar tradisional. Menurut dia, panjangnya rantai distribusi inilah yang membuat harga dari petani hingga konsumen menjadi jauh berbeda.

"Persoalan pertanian kita adalah distribusi. Terlalu panjang rantai pasok sehingga terkadang harga tak dinikmati oleh para petani," ujar Amran saat mengunjungi salah satu sentra produksi bawang merah di Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Jumat (12/6/2015).

Maka itu, Amran meminta agar semua stakeholder bertindak cepat untuk menyelesaikan panjangnya rantai pasok yang ada, termasuk dengan melibatkan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). Perannya, dapat menstabilkan harga dengan melakukan operasi menstabilkan harga bawang merah di pasar tradisional.

Ia menjelaskan, Bulog dapat membeli harga bawang merah yang ada di sentra-sentran produksi seperti Brebes dengan harga yang jauh dari harga di pasaran. Di Brebes, Bulog diminta untuk membeli bawang merah petani hingga 100 ton per hari dengan harga Rp16 ribu per kilogram (kg).

"Ada produksi panen bawang merah dengan harga di sini berkisar antara Rp14 ribu-Rp18 ribu per kg. Ini menunjukkan produksi dalam negeri cukup. Kami minta Bulog beli bawang dan diangkut ke jakarta untuk menstabilkan harga bawang yang tinggi," papar dia.

Dengan begitu, Indonesia tak perlu impor bawang merah dari negara lain. Menurutnya, impor hanyalah membuat petani negara lain sejahtera, sedangkan petani lokal terus saja menderita akibat produk pertaniannya tak mendapat harga yang seharusnya.

"Kalau kita mengimpor itu artinya memperkuat petani negara lain. Menyejahterakan mereka sedangkan petani kita semakin miskin. Impor adalah pilihan terakhir jika memang produksi dalam negeri tak mencukupi," tegas Amran.


(AHL)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA