Hasto: Revolusi Mental Harus Bergelora di Dada Pemuda Indonesia

K. Yudha Wirakusuma    •    Senin, 15 Jun 2015 13:38 WIB
pdip
Hasto: Revolusi Mental Harus Bergelora di Dada Pemuda Indonesia
Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto--Metrotvnews.com/Hardiat Dani Satria

Metrotvnews.com, Jakarta: Revolusi mental diharapkan dapat bergelora di dalam dadanya pemuda Indonesia. Revolusi mental tersebut harus didasarkan pada seluruh api perjuangan, ketika gagasan tersebut pertama kali disampaikan Bung Karno pada 1957.

"Saya percaya, kini saat yang tepat untuk memulai kembali revolusi mental melalui nation and character building," kata Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Kebangsaan, Kepemudaan dan Revolusi Mental yang diselenggarakan Pusat Studi Kebudayaan UGM, Senin (15/6/2015).

Membangun kembali Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa perhatian yang sungguh-sungguh, terhadap masa depan generasi mudanya. "Pemuda-pemudi Indonesia dengan karakternya yang progresif, idealis, patriotik, dan haus akan ilmu pengetahuan harus terus diciptakan," paparnya.

Hasto berharap, pemuda Indonesia harus menjadi pemuda pelopor. Mereka harus digembleng dengan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa yang benar. Pemuda harus menemukan seluruh konsepsi ideal daripada Indonesia merdeka.

"Mereka dipersiapkan memimpin transformasi Indonesia menjadi negara maju yang berakar dari kebudayaan Indonesia. Merekalah yang kita persiapkan untuk mewujudkan cita-cita Trisakti," ucap Hasto, yang merupakan alumni UGM.

Menurut Hasto, sebenarnya sangat luar biasa konsepsi yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. "Tugas kita tinggal menjabarkan dalam konteks kekinian, dan sekaligus merangkai untuk masadepan melalui jalan Trisakti. Tulang pungung dari kesemuanya itu adalah kaum muda pelopor Indonesia," ucapnya.

Hasto menyoroti reformasi berlangsung tanpa melalui pendekatan kebudayaan, dan kehilangan akar sejarah pendirian bangsanya. Pendekatan kebudayaan memerlukan proses yang menyatu dengan seluruh tradisi rakyat Indonesia.

Tanpa pendekatan kebudayaan ini, maka reformasi menjadi keropos. Bahkan sebagai bangsa, Indonesia kehilangan jatidiri, krisis identitas, dan bagaikan terkurung dalam "zaman kalatida” sebagaimana disampaikan oleh Ronggowarsito.

Untuk itu, menurut Hasto, reformasi politik dan ekonomi harus dilandaskan pada reformasi budaya yang menempatkan keunggulan jatidiri bangsa, atau reformasi melalui jalan Trisakti: berdaulat dalam bidang politik; berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

"Seluruh sumber kebudayaan Indonesia yang unik, akrab dengan alam, dan sebagai pengejawantahan dari negara agraris dan sekaligus negara maritim, adalah modal pembangunan kembali jati diri bangsa," paparnya.

Seminar diikuti 150 peserta terdiri dari dosen, mahasiswa, wakil organisasi kepemudaan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Prof. Dr. Suratman yang didahului sambutan Ketua Pusat Studi Kebudayaan UGM, Dr. Aprinus Salam. Terlihat juga hadir, Eko Suwanto, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DIY.


(YDH)