Tekanan Eropa Tambah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

   •    Selasa, 16 Jun 2015 14:30 WIB
rupiah melemah
Tekanan Eropa Tambah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Ilustrasi rupiah. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat memprediksi bahwa tekanan dari Eropa akan memberikan efek kepada penguatan mata uang dolar AS (USD) terhadap sejumlah negara. Dampaknya bagi Indonesia adalah adanya pelemahan nilai tukar yang tidak bisa menembus level di bawah Rp13.000 per USD.

Kepala Analisa Pasar FXTM Jameel Ahmad menuturkan sentimen investor semakin terbebani oleh kekhawatiran atas level inflasi Inggris dengan nilai negatif (-0,1 persen) dan adanya informasi Bank Sentral Eropa (BoE) sedang menyelidiki risiko-risiko potensial perekonomian bila Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa.

Hal ini dikombinasikan dengan kabar Yunani pada 22 Mei yang tidak dapat melunasi pembayaran utang pada akhir Mei. Fenomena ini kembali memperkuat adanya sentimen investor untuk beralih ke mata uang safe haven yakni dolar AS. Setelah data positif Non Farm Payrolls (NFP) atau data pertumbuhan lapangan pekerjaan sektor jasa, konstruksi dan manufaktur pada Mei yang mencapai 280 ribu ketimbang dengan April 2015 yang mencapai 221 ribu.

"Berita positif dari Amerika Serikat dan berita negatif dari Eropa dan Inggris pada akhir bulan membuat dolar Amerika Serikat menanjak naik, " kata dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (16/6/2015).

Menurutnya hal ini akan menyebabkan mata uang rupiah sangat sulit untuk menembus nilai tukar di bawah Rp13.000 terhadap USD. Setiap usaha untuk kembali menguat hanya berlaku sesaat karena dolar AS telah menjadi sasaran yang menarik di pasar global. Rupiah akan terus menjadi sasaran dari aksi dan pengumuman dari Fed, terutama karena kenaikan suku bunga tahun ini.
 
"Selain itu, berita tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia terpuruk di bawah prediksi lima persen dengan mencapai 4,7 persen pada kuartal pertama di 2015 sangat merugikan mata uang Rupiah. Penurunan nilai tersebut dibumbui oleh pengulangan pernyataan pimpinan Federal Reserve, Janet Yellen mengenai sikap bank Sentral yang ingin menaikkan suku bunga pada tahun ini," ujar dia. (MTVN/Arif Wicaksono)


(ABD)