Wastra Nusantara

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 17 Jun 2015 17:34 WIB
galeriindonesiakayaidenesia
Wastra Nusantara

Metrotvnews.com, Palembang: Indonesia kaya dengan warisan budaya. Salah satu bentuk warisan itu adalah beragam kain khas Indonesia. Ada kain tenun, batik, songket, tapis, gringsing, dan ikat.

Penasaran dari mana kain-kain itu berasal? Mari kita ikuti perjalanan Yovie Widianto melihat indahnya kain khas dari Palembang, Lombok, serta Madura.

Perjalanan dimulai dari kota empek-empek, Palembang, Sumatra Selatan. Tepatnya di Jalan Taman Siswa Nomor 40, seberang Lapangan Hatta Palembang, ada rumah tenun yang memproduksi kain tradisional songket asli dari benang emas.

Menurut Ronimah, Pemilik Rumah Tenun, dirinya memiliki kain songket berusia 100 tahun dengan kisaran harga diatas Rp50 juta. Kain tersebut dikerjakan selama satu tahun. Padahal, pengerjaan kain songket rata-rata 3-6 bulan.

Perjalanan berlanjut ke timur Indonesia, yaitu Lombok. Pulau seribu masjid ini memiliki keindahan kain tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah.

Salah satu motif yang terkenal di sana adalah subahnale yang memiliki arti religius bagi masyarakat Lombok berkaitan dengan proses pembuatannya. Subahnale merupakan motif yang pertama diciptakan sebelum motif lainnya.

Selain motif klasik, ada juga motif rangrang yang kini tengah menjadi trend di dunia fesyen. Tenun rangrang mempunyai ciri khas permukaan kain bertekstur dan berlubang-lubang karena benang lungsi yang disetel renggang.

Yovie pun berkesempatan bertemu langsung dengan perajin tenun Lombok. Bahkan belajar menenun dari mama-mama penenun.

Lain Lombok, lain lagi dengan Madura. Meskipun sama-sama berada di bagian timur Indonesia, kedua daerah tersebut memiliki corak kain khas yang berbeda.

Madura terkenal dengan Batik Gentongan yang banyak diproduksi di Desa Peseseh, Tanjung Bumi, Bangkalan. Motifnya yang khas, sama cantiknya dengan batik dari Yogyakarta, Solo, ataupun Pekalongan.

Warna utama Batik Gentongan adalah indigo (biru). Untuk mendapatkan warna biru yang diinginkan, kain batik dicelup dan didiamkan dalam gentong selama enam bulan.

Ada juga motif lain yang tidak kalah menariknya untuk dilirik, yaitu batik Ompay dan batik Cantel. Jika diamati, motifnya menyatu satu sama lain.

Tertarik untuk memiliki kain yang mejadi khasanah nusantara ini? Bagaimana pula kelanjutan jalan-jalan Yovie Widianto mengenal kain khas Indonesia? Simak kisah perjalanannya bersama Renitasari Adrian dalam IDEnesia di Metro TV pada Kamis (18/6/2015) pukul 22.30 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(NIN)