Ulasan Start-up

Mobitekno: Interseksi Antara Teknologi dan Otomotif

Insaf Albert Tarigan    •    Kamis, 18 Jun 2015 01:07 WIB
tech and life
Mobitekno: Interseksi Antara Teknologi dan Otomotif
Eko Lannueardy (Kiri), Desmal Andi (Kanan), dua dari tiga pendiri Mobitekno.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Semua pengusaha ingin perusahaannya maju dan bertambah besar. Tetapi, ibarat orang, perusahaan besar cenderung bergerak lamban, birokratis dan nyaman menjalankan “bussiness as usual”.

Memang, tiap perusahaan punya kiat berbeda agar tetap dapat bergerak lincah, meski ukuran organisasinya kian gemuk. Google, misalnya, membebaskan karyawannya untuk menggunakan 20 persen waktu kerjanya untuk mewujudkan ide-ide atau ketertarikannya secara pribadi.

Hasilnya, dari sanalah inovasi hebat semacam Gmail lahir dan jadi produk utama Google. Kedua, seperti tertulis dalam buku “How Google Works”, Google membuat sistem yang memastikan tiap ide bagus dari mana pun akan didengarkan, dan bahwa dalam membuat keputusan, data lebih penting ketimbang pengalaman, intuisi dan hirarki.

Saat kreativitas dan potensi seseorang justru terbentur oleh sistem perusahaan yang kaku, di situlah timbul pertanyaan pada dirinya: tunduk atau keluar dengan segala risikonya?

Desmal Andi, Eko Lannueardy dan Iwan Siallagan memilih keluar sesudah merintis karir selama lebih dari satu dekade di salah satu grup media terbesar di Indonesia. Ketiganya kemudian mendirikan start-up PT Mobitekno Cipta Media yang membawahi Mobitekno.com, situs yang memadukan berita komputer, gadget dan perangkat elektronik lainnya dengan otomotif dalam bingkai teknologi.

Mereka membesarkan situs yang mulai aktif sejak 13 April 2015 ini dengan telaten dan tumbuh secara organik. Topik yang mereka bahas terbagi dalam rubrik News, Community, Review, Accessories dan Gallery. Di bagian News, saat artikel ini ditulis, berita seputar teknologi gadget tampak lebih mendominasi dibanding otomotif, namun sebaliknya di bagian Community.



Di bagian News Otomotif, kita bisa melihat topik pembahasannya bukan seperti situs otomotif kebanyakan karena menyuguhkan konten yang lebih dominan ke “smart car”. Misalnya, berita berjudul “Jaguar Kembangkan Teknologi Deteksi Lubang di Jalan”, atau “Teknologi Masa Depan BMW Dapat Prediksi Keadaan Tempat Parkir”.  Review mengenai produk mobil juga tak menyajikan data seperti top speed, waktu tempuh dari 0-100 Km/jam dan sebagainya.



Dalam struktur perusahaan, Desmal tercatat sebagai Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi, sedangkan Eko dan Iwan bertindak selaku Direktur sekaligus Editor. Mereka juga membagi saham secara proporsional.

“Gue sengaja membagi porsinya begitu agar kami bisa berjalan independen,” kata Desmal dalam perbincangan dengan Metrotvnews.com, Rabu (17/6/2015). Dia juga ditemani rekannya, Eko.

Ide pendirian Mobitekno muncul dari Desmal karena ketertarikannya kepada teknologi dan otomotif atau perpaduan keduanya. Dia sudah berupaya mengulas kedua hal itu selama setahun lebih di perusahaan lama tempat dia bekerja, namun ruang eksplorasi ide-idenya akhirnya mentok juga.

Berawal dari sekadar bertukar pikiran dengan kedua rekannya pada medio 2014 lalu, niat Desmal untuk resign dan merintis usaha sendiri kian menguat karena mendapat dukungan, baik moral maupun dana. Apalagi, pada awal tahun ini, dia bertemu investor yang memahami dan bersedia menanamkan modal untuk membiayai operasional Mobitekno, setidaknya sampai tiga tahun ke depan.

Merintis usaha di usia yang memasuki 40 tahun tentu bukan perkara gampang. Lebih susah lagi karena Desmal dan Eko sama-sama sudah berkeluarga dan memiliki anak yang sudah sekolah. Dengan masa kerja lebih dari 10 tahun, mereka sudah dapat bekerja “santai”, menerima gaji, tunjangan, bonus dan fasilitas yang cukup. Tetapi, pepatah, “Life Begin at 40”, tampaknya benar-benar berlaku bagi ketiga orang ini.

Meski demikian, Desmal mengakui, butuh waktu beberapa bulan untuk meyakinkan istri dan keluarganya.

“Saat gue bilang ada investor, istri semakin tenang. Gue juga punya usaha lain di rumah sebagai back-up kalau ini tak berjalan sesuai rencana,” kata Desmal.

Eko juga menyampaikan hal yang sama. “Orangtua gue tadinya mempertanyakan, gue sudah di grup besar, kalau sabar, sudah tinggal bekerja aman dan nyaman,” katanya. “Tetapi, kembali lagi, gue di sini menjalani apa yang gue suka, sesuatu yang baru buat gue.”

Kepada kedua investor Mobitekno, Desmal menyampaikan rencana untuk fokus mengembangkan konten dan branding pada tahun pertama. Mereka baru akan mulai mengembangkan bisnis pada tahun berikutnya.

Branding dan kredibilitas Mobitekno sedikit banyak terbantu oleh reputasi ketiga pendirinya yang memang bukan nama asing di industri teknologi. Dengan demikian, mereka bisa bergerak cepat ke seluruh pemangku kepentingan, termasuk yang berpotensi memasang iklan.

Dengan melihat perkembangan sejauh ini dan bagaimana visi mereka ke depan, Mobitekno akan mampu menarik lebih banyak pembaca. Apalagi, mereka berencana memperkaya konten multimedia, termasuk video review. Mereka rutin memperbarui konten, sesuatu yang sangat penting bagi situs online. Untuk mencapai itu, mereka membuat ritme kerja se-fleksibel mungkin: karyawan tak harus ke kantor tiap hari.

“Bagi gue yang penting konten bukan absen,” kata Desmal.

Posisi Mobitekno juga tergolong unik karena belum ada media yang fokus membahas kedua hal itu secara spesifik dan serius. Di sisi lain, industri teknologi dan otomotif masih berpotensi besar di masa yang akan datang.

Tantangannya, mereka harus bisa menghadirkan konten unik secara konsisten. Jika sebagian besar isinya masih sama dengan situs lain, termasuk yang sedang Anda baca ini, lalu untuk apa pembaca mengunjungi Mobitekno?

Kedua, tentu saja monetisasi. Ini mungkin tantangan terbesar Mobitekno, juga semua situs berita yang lain. Kita tahu, dua pemangsa iklan terbesar di dunia saat ini adalah Google dan Facebook, yang bahkan media besar sekalipun termasuk sebagai klien mereka. Model iklan banner sudah memasuki masa senja karena adblock, lalu sebagian media menyiasatinya dengan native ads dan event. Apa pilihan Mobitekno?

Melihat kegigihan usaha dan tantangan yang mereka hadapi, mungkin Anda bertanya, “Inikah yang dikatakan keluar dari zona nyaman?”

“Jangan salah, gue bukan keluar dari zona nyaman ke enggak nyaman. Gue keluar dari zona nyaman ke zona yang lebih nyaman,” kata Eko.

Anda ada di posisi mana?


(ABE)