Bareskrim Geledah Rumah dan Kantor Tersangka Kasus Kondensat

Meilikhah    •    Kamis, 18 Jun 2015 14:56 WIB
korupsi migas
Bareskrim Geledah Rumah dan Kantor Tersangka Kasus Kondensat
Tim Bareskrim bersiap melakukan penggeledahan. (Foto: Meilikhah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dir Tipideksus) Bareskrim Polri menggeledah tiga rumah milik dua tersangka kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) penjualan kondensat DH dan RP dan satu lantai gedung milik PT TPPI di Mid Plaza Sudirman.
 
"Penggeledahan rumah tersangka, sama satu lantai gedung di Mid Plaza," kata Direktur Tipideksus Brigjen Pol Victor Edi Simanjuntak, di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2015).
 
Victor akan menggeledah kantor PT TPPI di lantai 20 gedung Mid Plaza Sudirman, sementara tim penyidik lainnya disebar menggeledah tiga rumah milik dua tersangka.
 
Salah satu tim penyidik mengatakan tiga rumah yang diperiksa berada di Kalibata Utara, Jakarta Selatan, milik tersangka RP dan di Pejaten Barat dan Kebayoran Baru milik DH. Hingga kini kedua tersangka masih menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri atas keterlibatannya dalam kasus penjualan kondensat yang melibatkan BP Migas (SKK Migas) dan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (PT TPPI).
 
Kasus ini bermula pada 2009 saat SKK Migas melakukan penunjukan langsung penjualan kondensat bagian negara kepada PT TPPI. Proses tersebut diduga melanggar keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-20/BP00000/2003-SO tentang Pedoman Tata Kerja Penunjukan Penjualan Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara dan Keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-24/BPO0000/2003-SO tentang Pembetukan Tim Penunjukan Penjual Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara.
 
Padahal, kata Victor, SKK seharusnya melakukan lelang terbatas terlebih dahulu sebelum menunjuk langsung. Dalam penunjukan langsung itu, imbuh Victor, kontraktor harus menyertakan jaminan yang lebih besar dari nilai pekerjaan yang dilakukan.
 
Tapi, yang terjadi tanpa jaminan dan belum lelang terbatas sudah dilakukan penunjukan. Hal lain yang ingin ditanyakan adalah terjadinya lifting sejak Mei 2009. Padahal, penunjukan itu telah dilakukan sejak April 2010. Namun pada Mei itu sudah dilakukan lifting lebih dari 10 kali.
 


(FZN)