Tausiyah Ramadan: Mengadopsi Sifat Allah Melalui Ramadan

Syarief Oebaidillah    •    Kamis, 18 Jun 2015 15:59 WIB
ramadan 2015
Tausiyah Ramadan: Mengadopsi Sifat Allah Melalui Ramadan
Umat muslim melakasanakan ibadah salat pada hari pertama Bulan Ramadan di Masjid Agung, Ciamis, Jawa Barat, Kamis 18 Juni 2015. Antara Foto/Adeng Bustomi

SEJATINYA melalui ibadah Bulan Ramadan kita bisa menangkap esensi puasa yakni pengendalian diri dari nafsu, amarah, syahwat,  hedonisme, dan syahwat kekuasaan. Karena hakekat manusia tidak pada nafsu rendah, namun pada nafsu mutmainah yaitu jiwa yang tenang.

"Dengan puasa menuju nafsu mutmainah kita harus menempa diri seoptimal mungkin mengadopsi sifat-sifat keilahian Ilahi," kata Rois Syuriah PBNU K.H. Masdar F. Masudi kepada Media Indonesia, Kamis (18/6/2015).

Di antara sifat-sifat Allah adalah Assalam yakni menebar keselamatan dan kedamaian. Ia mengutip sebuah hadist Nabi Muhammad SAW bahwa umat Muslim adalah yang dapat menjamin rasa aman segenap manusia dan makhluk lain.

"Jadi jika ada orang Islam yang merasa takut terhadap saudaranya yang Muslim, layak diragukan ke-Islaman mereka yang menyebar rasa takut itu. Orang Islam justru merasa tenteram kendati berbeda kultur maupun berbeda aliran dan juga agama lainnya," cetusnya.

Sifat Allah lainnya adalah Arrahman dan Arrahim yaitu pengasih dan penyayang tanpa pandang bulu. Dengan sifat ini manusia dapat meniru sifat Allah mencurahkan kasih sayang pada sesame, baik dengan bantuan materi dan non materi kepada sesama makhluk yang membutuhkan.

Sifat Allah berikutnya Al'alim yaitu Allah maha berilmu dan mengetahui. Kita sebagai manusia harus menuntut dan memperdalam ilmu.

"Sifat Allah seperti Al Khalik yaitu Maha Mencipta, maka kita sebagai manusia dapat berupaya menciptakan karya kreatif dalam kehidupan kita sehari hari yang berguna dan memberi makna pada manusia secara positif," ujar Wakil Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia itu.

Namun, Masdar mengingatkan kita mesti berhati-hati dalam mengadopsi sifat Allah yakni sifat Nya yang Maha Besar atau Akbar. Pasalnya sifat ini memunculkan kesombongan dan keangkuhan karena merasa diri lebih besar atau lebih berkuasa ketimbang yang lainnya.

"Dengan puasa kita menahan nafsu yang rendah dengan menghilangkan sifat suka mengumpat, menghinakan orang. Sehingga kelak kita kembali ke fitri atau kesucian," pungkasnya.


(TRK)