Buy Back 10% Saham, BMTR Anggarkan Rp2,2 Triliun

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 18 Jun 2015 18:01 WIB
mnc group
<i>Buy Back</i> 10% Saham, BMTR Anggarkan Rp2,2 Triliun
Ilustrasi -- FOTO: Antara/ANDIKA WAHYU

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Global Mediacom Tbk (BMTR) telah menyiapkan dana sebesar Rp2,2 triliun guna melakukan pembelian kembali saham (buy back) sebanyak-banyaknya 10 persen atau setara 1.272.459.292 saham.

Corporate Secretary Global Mediacom Syafril Nasution mengatakan dana sebanyak Rp2,2 triliun memiliki asumsi harga rata-rata buy back sebesar Rp1.700 per saham, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya sehubungan dengan buy back.

"Buy back direncanakan akan dilaksanakan selama 18 bulan terhitung setelah perseroan memperoleh persetujuan yang direncanakan pada 27 Juli 2015. Waktu 18 bulan dimulai pada 28 Juli 2015 sampai dengan 28 Januari 2017," tutur dia dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (18/6/2015).

Adapun buy back akan dilakukan baik melalui bursa maupun melalui cara lainnya. Perseroan telah menunjuk PT MNC Securities (terafiliasi) sebagai perantara pedagang efek. Pelaksanaan buy back merupakan salah satu bentuk usaha perseroan untuk meningkatkan kinerja saham perseroan.

Dia melanjutkan perseroan berencana untuk menyimpan saham yang telah dibeli kembali sebagai treasury stock. Meski demikian, dengan tetap memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Perseroan dapat menggunakan saham pada treasury stock untuk hal-hal lain yang mungkin diperlukan.

"Metode yang digunakan untuk buy back adalah metode pencatatan akuntansi biaya perolehan untuk treasury stock," ungkap dia.

Dampak pembelian kembali saham terhadap laporan keuangan dan pendapatan perseroan, lanjut dia, maka akan menurunkan aset dan ekuitas perseroan. Jika perseroan menggunakan saldo laba perseroan untuk buy back sebesar jumlah maksimum sebagaimana yang disetujui oleh RUPSLB, maka jumlah aset dan ekuitas akan berkurang dalam jumlah sebanyak-banyaknya Rp2,2 triliun.

"Perseroan yakin bahwa pelaksanaan buy back tidak akan memberikan dampak negatif yang material bagi kegiatan usaha perseroan," pungkas Syafril.


(AHL)