Kisah di Balik Tobatnya Gembong Teroris Umar Patek

K. Yudha Wirakusuma    •    Kamis, 18 Jun 2015 19:32 WIB
terorisme
Kisah di Balik Tobatnya Gembong Teroris Umar Patek
Umar Patek--Antara/Umarul Faruq

Metrotvnews.com, Jakarta: Saat ini Mantan gembong teroris Umar Patek telah membuktikan diri cinta kepada NKRI. Itu dibuktikan dengan menjadi petugas pengerek bendera Merah Putih. Mengubah sikap Umar Patek 180 derajat memerlukan kesabaran dan trik khusus.

“Dia cukup lama mempelajari apakah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) benar-benar datang untuk membina atau hanya sekadar pura-pura. Akhirnya mau bercerita tentang bagaimana kehidupan dia. Bahkan untuk mendekati dia, kami ikhlas dia memegang kepala dan telinga, bahkan mengajak saya foto selfie yang selama ini tidak pernah dilakukan,” kata Ketua Bidang Resosialisasi dan Rehabilitasi (Resoshab) BNPT, Werijon, di sela-sela Rapat Kerja Teknis (Rakornis) Penyempurnaan Modul Instrumen Identifikasi WBP Tindak Pidana Terorisme 2015 di Yogyakarta, Kamis (18/6/2015).

Werijon mengatakan dari situ akhirnya Umar Patek merasa mendapat teman. BNPT selalu mendengar cerita-cerita Umar Patek seraya memberi kesadaran tentang pandangan keliru soal jihad.

"Saya panggil dia brother Umar. Saya sampaikan bahwa brother Umar seharusnya bisa memberikan contoh atau pesan kepada kawan-kawan atau calon orang-orang yang akan berjihad bahwa jihad yang dijalankan itu tidak tepat," terangnya.

Werijon bersyukur, setelah melalui proses yang cukup pelik, Umar Patek bersedia mengerek bendera. Bahkan pada Hari Kebangkitan Nasional di Lapas Porong, 20 Mei  lalu, Umar Patek rela menjadi petugas pengibar bendera Merah Putih.

“Kita berikan rasa damai kepada mereka dan saya sampaikan kehadiran BNPT itu adalah bentuk perhatian negara. Tidak ada maksud lain. Intinya kami ingin dia menjadi agen perubahan bagi keutuhan NKRI,” tukas Werijon.

Keberhasilan BNPT dalam melakukan proses deradikalisasi pada narapidana tindak pidana terorisme seperti Umar Patek menjadi titik tolak meningkatkan kualitas petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas).

Karena itu, kata werijon, BNPT merasa perlu menyusun modul identifikasi sebagai bagian dari pembinaan mereka dengan bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham. Adanya modul itu membuat proses pembinaan BNPT terhadap Umar Patek bisa dilakukan di tingkat petugas Lapas.

"Kami melakukan dengan pendekatan dan pembinaan dengan pendekatan hati. Umar Patek misalnya, susah mendekati dia karena dia tokoh hebat di lingkungannya. Tapi kita yakin dia seorang Muslim yang taat, punya hati dan pikiran dan pasti bisa diajak kerjasama,” terangnya.

Werijon berharap, dengan adanya modul ini kualitas petugas lapas dalam membina narapidana tindak pidana terorisme lebih meningkat. Karena selama ini proses itu dilakukan dengan mengira-ngira dan memperhatikan saja.

Pembuatan modul identifikasi itu dipimpin langsung oleh Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Hamdi Muluk MSi.


(YDH)