Proses Penyusunan RPP E-Commerce Dinilai tak Transparan

   •    Kamis, 18 Jun 2015 19:48 WIB
pesta belanja online
Proses Penyusunan RPP E-Commerce Dinilai tak Transparan
Illustrasi E-Commerce (MI,USMAN ISKANDAR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menyatakan kekecewaannya terhadap Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang dinilai tidak kooperatif dan transparan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tersebut. Selama dua tahun wacana mengenai RPP bergulir, tidak sekalipun asosiasi diberikan akses terhadap materi draf ataupun diinformasikan mengenai status dari dokumen tersebut, kendati permintaan secara formal  maupun informal sudah disampaikan dalam berbagai kesempatan.

Undangan pertemuan untuk melakukan uji publik pun baru dikirimkan kepada Asosiasi pada satu hari sebelum acara berlangsung. Hal ini dirasa sangat janggal mengingat pentingnya pertemuan untuk dihadiri oleh para pelaku industri. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, materi RPP juga tidak diberikan, bahkan setelah pertemuan tersebut berlangsung.

Seperti yang kita ketahui bersama, peran regulasi sangatlah besar dalam menentukan masa depan industri suatu negara. Regulasi yang tidak kondusif dapat berisiko menghambat pertumbuhan atau bahkan mematikan industri e-commerce nasional yang saat ini masih dalam tahap perkembangan awal.

"Kami sangat menyayangkan tindakan Kemendag ini. Asosiasi pada dasarnya selalu mendukung rencana pemerintah untuk meregulasi industri ini. Akan tetapi regulasi tersebut harus dibuat dengan melibatkan para pelaku industri agar mengedepankan para pemain lokal dan kepentingan konsumen di Indonesia. Suatu regulasi bisa membuat industri meledak atau sebaliknya mati. Kami berharap akan terjadi titik cerah dalam beberapa hari ke depan," ungkap Ketua Umum idEA Daniel Tumiwa, dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (18/6/2015).

Kekhawatiran senada juga disampaikan oleh CEO Tokopedia William Tanuwijaya yang juga Ketua Dewan Pengawas idEA. "Kami memerlukan dukungan pemerintah dalam menciptakan equal playing field bagi para pemain lokal, bukan regulasi berlebihan yang justru bisa membunuh industri. Pada akhirnya konsumen dapat memilih untuk menggunakan platform lain dari belahan dunia manapun, yang belum tentu harus tunduk terhadap regulasi di negara ini, ujar William. (MTVN/Arif W) 


(ABD)