Tausiyah: Ramadan dan Revolusi Mental

Syarief Oebaidillah    •    Sabtu, 20 Jun 2015 17:36 WIB
ramadan 2015
Tausiyah: Ramadan dan Revolusi Mental
Umat muslim membaca Alquran di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis 18 Juni 2015. Foto: MI/Ramdani

BULAN Ramadan merupakan bulan diturunkannya Alquran atau Nuzulul Quran, di mana Allah SWT menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW setelah melalui kontemplasi di Gua Hira, Makkah, atas keprihatinan negeri yang diselimuti dalam suasana jahiliah atau kebodohan.

"Turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW di Bulan Ramadan sejatinya untuk kepentingan bangsa dan negara beliau yang ketika itu diliputi kebodohan dan ketidakadilan," kata KH Muhammad Nurhadi kepada Media Indonesia.

Hemat Cak Nur yang sudah melanglang buana berdakwah ke Eropa dan bersilaturahmi ke Vatikan, Italia, itu hal terpenting dalam Nuzulul Quran adalah Nabi diajarkan Allah untuk mengelola negara dengan damai, rukun, dan adil untuk sebuah kelangsungan hidup warga negaranya.

Dikatakan, manakala negara mampu menjamin kelangsungan hidup warga negaranya maka negeri itu disebut berjalan dengan hukum Tuhan.

Salah satunya, kata Cak Nur, yang juga mengisi program dakwah di sejumlah stasiun televisi ini bahwa Nabi diajarkan Tuhan untuk mengubah pola pikir penduduknya menjadi warga negara.

Dia menjelaskan, makna penduduk hanya menduduki sebuah tempat sedangkan warga negara memahami hak dan kewajiban.

Makna penduduk apa yang ku peroleh dari negaraku, bagaimana mendapat sesuatu dari negara. Kalau warga negara, produktif dan berpikir apa yang bisa kuberikan pada negaraku.

"Dalam rangka mengubah penduduk menjadi warga negara yang memunyai daya juang diperlukan revolusi mental besar-besaran, sebab mental itu tidak dapat diselesaikan oleh pendidikan dan agama karena mental adalah sebuah keberanian untuk melakukan perubahan dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik. Atau sebuah keberanian melakukan perubahan dari mental peminta menjadi mental pemberi," papar Cak Nur.

Dalam konteks Ramadan, lanjut dia, para Nabi mendapat wahyu dari Al Khaliq berangsur-angsur membentuk tauhid atau jati diri umatnya. Para Nabi menempa umatnya menjadi orang yang tidak memunyai kepentingan pribadi atau golongan namun atas nama Tuhan yang disebutnya orang Basmallah.

Dalam Ramadan, Nabi menekankan ketauhidan dan hukum, sebab itu menurutnya, mereka yang menjadi wakil rakyat seharusnya mampu memproduksi hukum dengan  melepas kepentingan pribadi atau kelompok. 

"Dengan hikmah puasa dan revolusi mental kepentingan bangsa menjadi yang terdepan. Inilah yang diajarkan para nabi," cetusnya.

Doa Nabi

Agar memahami pentingnya negara, melalui Alquran diajarkan kisah-kisah para Nabi terdahulu. Kisah masa lalu para Nabi dalam mengelola negara sehingga menjadi negeri yang berdaya dan bermanfaat bagi umat dan rakyatnya.

Cak Nur menambahkan para Nabi pun memunyai sejumlah doa untuk kebaikan negeri yang dipimpinnya.

Seperti Nabi Ibrahim berdoa: "Ya Allah jadikanlah negeriku negeri yang aman dan sentosa."

Nabi Muhammad SAW berdoa: "Demi negeri di mana aku bersumpah pada Nya." begitupun Nabi Nuh dan Sulaiman memiliki doa dalam memimpin negerinya.

Cak Nur menegaskan dalam konteks Ramadan, sebagai insan kita diharapkan memahami kewajiban mengubah mental manusia menjadi pemberi bukan peminta apalagi bermental koruptor.

"Maka pada Ramadan kita punya kepentingan mengubah mental sehingga diperlukan perjanjian atau komitmen moral warga negara kepada negara misalnya berjanji mengorbankan harta dan jiwa untuk negara, tidak merusak lingkungan, tidak durhaka kepada orangtua, tidak mencuri atau serakah," pungkasnya.

--------

KH Muhammad Nurhadi mengisi Program Nation on Track di Metro TV setiap hari pukul 04.55 WIB. Program ini membahas kajian Alquran dan Revolusi Mental selama Ramadan.


(TRK)

KPK Ambil <i>Medical Record</i> Setya Novanto

KPK Ambil Medical Record Setya Novanto

2 hours Ago

Salah satu staf pimpinan DPR yang kerap mengurus keperluan Novanto mengaku, rombongan KPK berku…

BERITA LAINNYA