Rupiah Terus Bergejolak

Angga Bratadharma    •    Minggu, 21 Jun 2015 12:41 WIB
analisa ekonomi
Rupiah Terus Bergejolak
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang satu minggu lalu atau dari 15 Juni hingga 19 Juni 2015 masih mengalami tekanan. Dolar Amerika Serikat (USD) tampaknya masih menunjukkan taringnya dan membuat banyak nilai mata uang negara di dunia mengalami tekanan, tidak terkecuali nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data yang dihimpun Metrotvnews.com, nilai tukar rupiah pada Senin 15 Juni dibuka melemah. Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp13.336 per USD. Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada perdagangan pagi itu berada di posisi Rp13.338 per USD. 

Pada Selasa 16 Juni, rupiah dibuka di Rp13.329 per USD. Pada Rabu 17 Juni, rupiah dibuka di Rp13.344 per USD. Sementara itu, pada Kamis 18 Juni, rupiah pagi itu diperdagangkan di level Rp13.343 per USD. Pada Jumat 19 Juni, rupiah dibuka di level Rp13.313 per USD.

Tak hanya pada pembukaan perdagangan saja rupiah mengalami pelemahan. Menjelang penutupan, sepanjang satu minggu lalu, pergerakan rupiah juga masih terpantau mengalami tekanan dan usaha untuk kembali bangkit masih terus ditahan USD.

Misalkan saja pada penutupan Senin 15 Juni, rupiah ditutup di Rp13.326 per USD. Pada Selasa 16 Juni, rupiah ditutup di Rp13.348 per USD. Pada Rabu 17 Juni, rupiah ditutup di Rp13.348 per USD. Pada Kamis 18 Juni, rupiah ditutup di Rp13.305 per USD. Pada Jumat 19 Juni, rupiah ditutup di Rp13.332 per USD.

Sepekan lalu rupiah memang belum menunjukkan siapa tuan rumah di negeri sendiri. Sepanjang satu minggu itu, rupiah seakan 'betah' di atas Rp13.300 per USD. Belum ada sentimen yang signifikan untuk mengembalikan nilai tukar rupiah di bawah Rp13.300 per USD, bahkan di bawah Rp13.000 per USD.

Pelemahan nilai tukar rupiah ini di antaranya disebabkan oleh melambatnya perekonomian Indonesia di kuartal I-2015 dan persoalan ekonomi dunia yang tak kunjung selesai. Selain itu, pernyataan The Fed yang akan menaikkan suku bunga juga turut membebani nilai tukar.

Sejumlah pengamat ekonomi pun pesimistis rupiah bisa kembali di bawah Rp13.300 per USD dalam waktu dekat ini. Bahkan, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan, ke depannya nilai tukar rupiah masih mengalami pelemahan. Pelemahan ini terus terjadi hingga The Fed mengumumkan kenaikan tingkat suku bunganya.

"Saya kira, selama belum ada kepastian (The Fed menaikkan suku bunga) market akan terus bergejolak. Tentu tidak ada yang tahu selain The Fed itu sendiri," ungkap mantan Menteri Keuangan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Senada dengan Chatib, Kepala Analisa Pasar Forextime (FXTM) Jameel Ahmad menilai, rupiah memang sangat sulit menembus di bawah Rp13.000 per USD. Tak dipungkiri pada pertengahan Maret 2015, USD sudah menembus level Rp13.000 per USD, level yang belum pernah dicapai sejak 1998.

"Berita tentang pertumbuhan ekonomi di Indonesia terpuruk di bawah prediksi lima persen di 4,7 persen pada kuartal I-2015 sangat merugikan mata uang rupiah," ungkap Jameel.

Pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak tersendiri, utamanya di dalam negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah nyatanya membuat sejumlah pengusaha mengalami kerugian. Kerugian ini pun bisa saja berimbas terhadap keputusan para pengusaha untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

Hal ini bukan tidak mungkin bisa terjadi. Jika ekonomi terus melambat dan nilai tukar rupiah mengalami tekanan begitu hebat, para pengusaha bakal melakukan sejumlah efisiensi termasuk mengurangi jumlah karyawannya.

Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengakui, depresiasi rupiah membuat semua pengusaha merugi. Bahkan, kerugian para pengusaha mencapai hingga 50 persen. Angka yang terbilang besar.

"Semua sektor terjadi penurunan omzet. Penurunannya antara 10-50 persen, rata-rata sekitar 30 persen. Ini bukan lampu kuning lagi, tetapi sudah lampu merah," tegas Suryo.

Terlepas dari itu semua, untungnya pada akhir pekan lalu nilai tukar rupiah mulai menunjukkan taringnya. Berdasarkan data Bloomberg, Jumat 19 Juni, rupiah pada pagi dibuka di level Rp13.313 per USD. Rupiah terus bergerak menguat 21 poin atau setara 0,16 persen. Tentu penguatan rupiah ini diharapkan oleh semua pihak bisa terus terjadi dan nantinya diharapkan bisa kembali di bawah Rp13.300 per USD, atau bisa berada di bawah Rp13.000 per USD.


(ABD)