Sistem Ahwa Diklaim Kurangi Politik Uang di Muktamar NU

Nurul Hidayat    •    Minggu, 21 Jun 2015 15:41 WIB
muktamar nahdlatul ulama
Sistem Ahwa Diklaim Kurangi Politik Uang di Muktamar NU
Istigosah dan Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (14/6). Foto: MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com, Jombang: Sistem pemilihan melalui perwakilan atau ahlul halli wal aqdi (ahwa) pada muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) diklaim bisa mengurangi politik uang. 

Jaringan NU Kultural (Janur) yakin sistem ahwa bisa memilih ketua umum Pengurus Besar NU tanpa dibumbui politik uang. "Upaya menerapkan sistem ahwa merupakan langkah serius menyukseskan muktamar ke-33 NU pada Agustus nanti," kata Koordinator Janur Jawa Timur, Aan Anshori, Minggu (21/6/2015).

Sistem ahwa, lanjut dia, juga akan mengembalikan kredibilitas muktamar NU yang sempat porak-poranda pada muktamar ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan, lima tahun lalu.

"Layaknya kongres parpol, muktamar (di Makassar) tersebut dinodai politik uang. Aku ada di lokasi saat itu. Ahwa perlu diapresiasi meskipun ini bisa dianggap langkah mundur bagi demokratisasi di tubuh NU karena terkesan mengamputasi hak pemilik suara," kata Aan.

Aan menambahkan proses pemilihan Rais Aam yang masuk dalam ahwa hendaknya penuh terobosan. Setidaknya memperhatikan mubahalah (sumpah di hadapan publik) untuk tak melakukan politik uang dan membatalkan pencalonan kandidat jika terindikasi melakukan praktik tersebut. "Kewaspadaan panitia sangat diperlukan," imbuhnya.

Meski begitu, Aan tak bisa menjamin penggunaan sistem ahwa akan menghapus total politik uang. "Belum tentu. Apalagi jika tidak ada upaya serius dari panitia dan elit NU untuk mewacanakan muktamar bersih dari riswah (politik uang)," kata dewan ahli Isnu Jombang ini.

Muktamar ke-33 NU akan diselenggarakan pada Agustus ini di Jombang, Jawa Timur. Agenda utama muktamar adalah memilih pengganti Said Aqil Siradj, ketua umum PBNU, yang sudah menjabat sejak 2010.

Diperkirakan akan hadir sebanyak 50 ribu nahdliyin atau simpatisan NU dengan peserta resmi sebanyak 4 ribu orang yang terdiri dari struktur wilayah hingga cabang NU di seluruh Indonesia.


(UWA)