Cerita Ramadan dari Pelajar Indonesia di Suriah

Willy Haryono    •    Senin, 22 Jun 2015 09:37 WIB
suriah membara
Cerita Ramadan dari Pelajar Indonesia di Suriah
Warga Suriah berbuka puasa bersama di Akcakale, provinsi Sanliurfa, 20 Juni 2015. AFP / BULENT KILIC

Metrotvnews.com, Damaskus: Sejak gelombang Arab Spring melanda pada awal 2011, Ramadan tahun ini memasuki tahun kelima krisis yang memporak-porandakan Suriah. Pelajar Indonesia yang masih bertahan di Suriah tentu harus menyesuaikan diri dengan kondisi krisis dan tetap menjalankan kewajiban di bulan Ramadan.
 
"Kalau dulu, setiap malam kami berkeliling ke masjid-masjid di Kota Damaskus," Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Suriah, Ahmad Fuadi Fauzi, bercerita tentang perbandingan Suriah sebelum dan setelah krisis. 
"Kadang mahasiswa berburu makanan berbuka yang enak-enak di masjid-masjid tertentu. Apalagi orang Damaskus terkenal dermawan kepada para pelajar asing. Pulang tarawih kadang dikasih uang," lanjut Fuadi, dalam rilis Kementerian Luar Negeri yang diterima Metrotvnews.com, Minggu (21/6/2015). 

Namun kini, kondisi serupa jarang terjadi. Kesulitan ekonomi menjadi faktor utamanya. Bahkan, beberapa masjid yang biasa jadi langganan pelajar berburu makanan sudah dikuasai pemberontak, baik dari kelompok Free Syrian Army, Islamic State (ISIS), Jabhat al-Nushra dan lain-lain. Selain itu, faktor keamanan yang rawan juga tidak memungkinkan mahasiswa bepergian terlalu malam.
 
Ramadan tahun 2015 ini jatuh pada musim panas. Artinya, lama puasa di Suriah sekitar 16,5 jam; dimulai dari Subuh pukul 04.30 dan Maghrib pukul 20.00. Sholat Isya baru dimulai pukul 21.30 dan tarawih selesai sekitar jam 23.00. Jadi menjelang tengah malam, para mahasiswa Indonesia baru tiba di rumah.
 
"Sebelum krisis, kita bebas bepergian jam berapapun dan kemanapun. Bahkan anak-anak bermain bola di lapangan hingga larut malam di musim panas ini. Tidak ada orang yang bertanya, siapa dan maksud kita apa," kenang Ahsin Mahrus, mahasiswa pascasarjana di Universitas Kuftaro. "Kalau sekarang ngeri. Keluar malam, kita dicurigai. Ditanyai macam-macam oleh tentara di checkpoint."
 
"Apalagi di saat kondisi sulit seperti ini banyak orang kepepet dan nekat melakukan tindakan kejahatan," tambah Mukhlas Hamdi Rais, mahasiswa tingkat akhir di Universitas Kuftaro.
 
Cerita tersebut mengemuka dalam acara buka puasa di lobi KBRI Damaskus bersama seluruh staf dan para mahasiswa pada hari pertama Ramadan. Acara yang juga dihadiri Dubes RI untuk Suriah, Drs. Djoko Harjanto, MA, dimulai dengan berbuka puasa, santap malam, ceramah agama, hingga ditutup tarawih berjamaah. Mahasiswa menyantap hidangan makan malam khas Tanah Air, seperti sayur sop, perkedel, bakwan, rendang, dan kerupuk.
 
Menurut Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Damaskus, AM.Sidqi, acara ini sengaja diadakan sebagai sarana silaturahim bagi seluruh WNI di Damaskus dan mengobati kerinduan akan kemeriahan suasana Ramadan di Indonesia. 

"Dengan kumpul dan bergembira seperti ini, kita sejenak melupakan kondisi krisis yang melanda Suriah, tanpa lupa mendoakan agar kedamaian segera terwujud di Bumi Syam ini. KBRI Damaskus berencana mengadakan acara buka puasa empat kali selama bulan Ramadan tahun ini," tutur AM. Sidqi. 
 
Saat ini, jumlah pelajar Indonesia di Suriah ini berjumlah 27 orang dari berbagai tingkatan, mulai dari SMA hingga pascasarjana. Sebelum krisis, pelajar Indonesia di Suriah pernah mencapai sekitar 250 orang. Namun akibat krisis berkepanjangan, Pemerintah RI melalui KBRI Damaskus melakukan repatriasi secara bertahap para WNI yang berada di Suriah dan juga moratorium pengiriman tenaga kerja ke Suriah sejak September 2011.


(WIL)