Reformasi Tidak Berjalan, BI: Rupiah Sulit Menguat

Antara    •    Selasa, 23 Jun 2015 11:44 WIB
rupiah
Reformasi Tidak Berjalan, BI: Rupiah Sulit Menguat
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengaku nilai tukar rupiah masih akan sulit menguat dalam waktu dekat apabila tidak ada upaya untuk melakukan reformasi struktural secara konsisten dan berkesinambungan.

"Untuk itu, Indonesia harus bisa konsisten melaksanakan reformasi struktural dengan baik, ada pengendalian inflasi dan upaya mengelola transaksi berjalan yang sehat," kata Agus, di Jakarta, Senin (22/6/2015) malam.

Agus mengatakan, kondisi rupiah saat ini sedang tertekan oleh fenomena "super dolar" dan situasinya bisa bertambah buruk apabila tidak ada upaya dari pemerintah untuk melanjutkan reformasi terutama dalam memperbaiki kinerja neraca transaksi berjalan.

Keberlangsungan reformasi tersebut sangat penting, karena negara-negara yang saat ini mengalami depresiasi mata uang terhadap dolar AS (USD) adalah negara yang memiliki defisit transaksi berjalan buruk, laju inflasi tinggi, dan fundamental ekonomi yang rentan.

"Tapi kalau negara itu melakukan reformasi dengan kuat dan bisa melakukan perbaikan transaksi berjalan dengan baik, contohnya, seperti India di mana dia bisa membangun confidence, maka mata uangnya bisa terjaga dari depresiasi yang besar," jelas Agus.

Untuk itu, upaya mengelola reformasi struktural, salah satunya dengan memperbaiki defisit transaksi berjalan harus terus dilakukan, meskipun belum tentu tindakan itu bisa mengembalikan rupiah berada pada kisaran dibawah Rp13.000 per USD.

"Kami sampaikan bahwa selama kita masih ada defisit transaksi berjalan memang cukup sulit kita bisa mempunyai kondisi rupiah yang menguat. Jadi memang kita harus pandai mengelola defisit itu dengan baik," pungkas Agus.



(ABD)