Cerita Nurdin, Tunanetra yang Hafal Alquran

Tri Kurniawan    •    Kamis, 25 Jun 2015 17:38 WIB
ramadan 2015
Cerita Nurdin, Tunanetra yang Hafal Alquran
Muhammad Nurdin. NU Online

Metrotvnews.com, Jakarta: Salat tarawih berjamaah di Masjid Al-Munawwaroh, komplek kediaman  Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, diimami seorang hafidz tunanetra, Selasa 23 Juni.

"Namanya Muhammad Nurdin," kata Imam Besar Masjid Al-Munawwaroh Kiai Ahmad Ahsin seperti dilansir NU Online.

Muhammad Nurdin, 35, lulusan Pesantren Al-Anwar, Desa Goa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon telah hafal Alquran 30 juz sejak usia 26 tahun. Ia mondok di pesantren yang diasuh KH Anwar Maksum, kakak sepupu Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, sejak 2001 hingga 2006.

"Ketika mondok di Cirebon, saya setoran hafalannya langsung satu maqra'. Saya menghafal Quran memakai Quran braille yang saya dapat dari Yogya. Waktu itu memang susah ya nyari Quran untuk kaum tunanetra," tuturnya.

Pria asal Kampung Bojong Pari, Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi ini bercerita, saat kecil sudah belajar membaca Alquran huruf braille di Yayasan Pesantren Al-Muawanah, Sukabumi. Setelah setahun, ia pindah mondok di Bandung.

Nurdin mengatakan, awal ketertarikannya menghafal Quran lantaran keinginan belajar kitab kuning kandas. Sebab, belum ada yang ditulis braille. “Quran saja satu juz itu gede banget. Makanya, wajar kalau susah ditemukan kitab kuning dalam tulisan braille,” ujarnya.

Oleh kiainya, Nurdin disarankan menghafal Alquran saja. “Jadi saya enggak langsung ke Cirebon. Tapi, ke Bandung dulu mondok di Al-Syifa’ khusus belajar Ilmu Qiraat dan Tajwid. Cuma memang waktu itu suara saya kurang memadai. Akhirnya, kiai menyuruh saya menghafal saja,” ungkapnya.

Nurdin lalu mengikuti petunjuk kiainya yang di Bandung untuk mondok Quran di Cirebon. “Saat menerima hafalan saya, Kiai Anwar biasa aja. Jadi, bareng dengan santri yang lain. Apalagi saya sudah mempunyai bekal, tajwid sudah bagus. Jadi langsung menghafal,” ujarnya bangga.

Jika ada anak tunanetra ingin menghafal Alquran, Nurdin menyarankan agar belajar braille terlebih dahulu di Sekolah Luar Biasa. “Memang ada yang model menuntun saja hingga bisa baca. Tapi kan kiai sibuk juga. Teman-teman juga enggak tentu senggang,” tandasnya.

Di tengah keterbatasannya, Nurdin tetap bersyukur karena diberi kemampuan oleh Allah menghafalkan kitab suci-Nya. Ia berharap, anak-anak tunanetra terus berlomba dalam kebaikan. Sebaiknya mereka tidak kalah dengan yang lain.

“Jangan ketinggalan dengan anak-anak normal. Sekarang kan ada sekolahnya. Banyak juga tunanetra yang pintar, ada yang jadi dosen. Tapi, tantangannya orang tua ini. Setelah dilepas, banyak yang takut ini takut itu. Harus benar-benar tega lah untuk kemajuan anaknya,” pungkasnya. 


(TRK)