Eagle High Plantations Bakal Dikucuri Rp2,5 Triliun

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 25 Jun 2015 17:58 WIB
emiten
Eagle High Plantations Bakal Dikucuri Rp2,5 Triliun
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam rangka menurunkan utang sekaligus menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) akan mendapatkan pinjaman sebesar Rp2,5 triliun dengan tenor lima tahun lamanya.

"Dana refinancing Rp2,5 triliun untuk turunkan utang dan capex tahun ini. Kami dapatkan dari pinjaman perbankan," ucap Corporate Secretary Eagle High Plantation Rudy Suhendra, ketika ditemui dalam acara paparan publik perseroan, di UOB Plaza, Jakarta, Kamis (25/5/2015).

Kendati demikian, perseroan belum bisa mengungkapkan besaran bunga dan perbankan yang memberikan fasilitas pinjaman tersebut. Dia menegaskan, perjanjian pinjaman sudah dalam tahap akhir. "Kami harapkan penandatanganan perjanjian pinjaman bisa kami jalankan sekitar pekan depan," tuturnya.

Pada saat ini, BWPT tercatat mempunyai utang jatuh tempo sebesar Rp1,81 triliun. Dengan rincian, pinjaman jangka pendek sebesar Rp337,11 miliar, pinjaman jangka panjang jatuh tempo setahun sebesar Rp773,28 miliar, sedangkan obligasi Rp703,63 miliar yang jatuh tempo November.

Seperti diberitakan sebelumnya, Eagle High Plantation bakal menganggarkan dana belanja modal sebesar Rp800 miliar untuk membangun dua pabrik. Adapun dana capex berasal dari operasional perusahaan dan refinancing yang sedang dijalankan. Untuk porsinya, perseroan belum bisa menjelaskan secara detail.

"Kami akan bangun pabrik dan luas areal tanam 5.000 hektare (ha) tahun ini," kata Rudy.

Dia menguraikan pembangunan dua pabrik itu dianggarkan sebesar Rp200 miliar dan ditargetkan selesai pada 2016. Selain itu dana sebesar Rp100 miliar untuk penanaman baru. Sedangkan sisanya untuk perawatan tanaman yang belum menghasilkan. Perseroan memiliki  luasan tanah yang tertanam sebesar 150 ribu ha.

"Adapun pabrik yang rencana kita bangun itu dengan kapasitas produksi 45 ton per jam dan  bisa diperpanjang menjadi 90 ton per jam. Luas pabrik tidak lebih dari 100 ha, termasuk di dalamnya ada pemukiman," pungkasnya.


(ABD)