Legenda Jakarta

Kawasan Kota Tua, Sejarah "Kota Gagal" di Jakarta

LB Ciputri Hutabarat    •    Kamis, 25 Jun 2015 22:00 WIB
hut jakarta
Kawasan Kota Tua, Sejarah
Sebanyak 27 gedung di 10 lokasi di kawasan Kota Tua kini mulai direvitalisasi oleh Pemprov DKI Jakarta. (foto: MI/Immanuel Antonius)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jakarta merupakan kota metropolitan. Karena selain menjadi ibukota negara RI dengan kapasitasnya sebagai pusat politik dan pemerintahan, Jakarta juga berperan sebagai pusat bisnis dan ekonomi. Praktis, Jakarta menjadi salah satu kota tersibuk di Indonesia.

Namun, jika menengok sejarah, peradaban Jakarta dimulai dari sebuah kawasan kecil bernama Kota Tua alias Batavia Lama yang dibangun pada awal abad ke-17 oleh sekelompok pengusaha yang berambisi menguasai perniagaan rempah-rempah di Nusantara (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) dan pemerintahan kolonial Belanda.

Kota Tua Jakarta atau yang juga dikenal dengan sebutan Oud Batavia adalah wilayah kecil di Jakarta yang luasnya hanya sekitar 1,3 Km persegi. Pada tahun 1610-1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang atau loji. Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis.

Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC keempat (1618 – 1629), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis, dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam. Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta. Dari basis benteng ini pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang tuan rumah, yang memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan keraton serta hampir seluruh pemukiman penduduk. Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, akhirnya Belanda menguasai seluruh kota, dan kemudian sebagian besar wilayah di Nusantara.

VOC menamakan kota ini Batavia, untuk mengenang bangsa Batavieren, yaitu bangsa Germania yang bermukim di tepi Sungai Rhein yang kini dihuni oleh orang Belanda. Nama Batavia ini kemudian digunakan oleh Belanda selama lebih dari 300 tahun.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa sebagai pusat administrasi VOC di Hindia, Oud Batavia punya kisah yang kelam karena merebaknya wabah penyakit yang dipicu oleh perilaku jorok warga dalam kota benteng itu dan sanitasi yang buruk.

Penduduk Batavia Lama adalah masyarakat kelas satu, yakni orang Eropa. Namun, masalah muncul ketika pada awal abad ke-18 Batavia menjadi bertambah ramai dan padat penduduk. Ketidakpedulian warga kota ini terhadap masalah sampah yang menumpuk ternyata menimbulkan masalah serius.

Kepala Satuan Pelaksana Pengawasan dan Penataan Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Jakarta, Bayu, menjelaskan bahwa pada masa itu, warga yang tinggal di dalam benteng kota Batavia tidak menangani sampah rumah tangga dengan baik.

"Mereka itu dulu jorok, kotoran sampah rumah tangga dikumpulkan di rumah dan baru dibuang pada malam hari di kali (ciliwung) belakang rumah. Jadi dari kali itu menimbulkan penyakit diare, banjir karena mampat atau aliran kali itu tersumbat," tutur Bayu saat ditemui Metrotvnews.com, Rabu (18/6/2015).

Masalah sosial ini, ia melanjutkan, membuat pemerintah kota Batavia begitu kewalahan. Warga yang terjangkit penyakit karena wabah ini semakin banyak, angka kematian penduduk Eropa di Batavia meningkat. Bersamaan dengan itu, VOC selaku kongsi dagang swasta Belanda mengalami kebangkrutan.

Kerajaan Belanda akhirnya turun tangan untuk menyelamatkan Hindia sebagai koloninya terkait bisnis perniagaan rempah-rempah yang telah dikuasai VOC di Nusantara. Solusinya kepengurusan diambil alih oleh kerajaan. Pada tanggal 27 Maret 1749, Parlemen Belanda mengeluarkan UU yang menetapkan bahwa Raja Willem IV sebagai penguasa tertinggi VOC. Sejak saat itu, pejabat pemerintahan di Batavia diisi oleh utusan Kerajaan Belanda. Batavia kemudian menjadi pusat administrasi pemerintah Hindia Belanda di Asia.

Pembangunan Batavia diperluas ke daerah selatan. Pada tahun 1809, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah baru bernama Weltevreden yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Batavia lama ke arah selatan. Cakupan wilayah Weltevreden merujuk kepada hampir seluruh daerah Jakarta Pusat sekarang.

Epidemi penyakit di Batavia terus meluas pada kurun tahun 1835 dan 1870, sehingga mendorong banyak penduduk keluar dari kota sempit itu menuju Weltevreden.

Penuturan senada juga diungkapkan oleh Arkeolog dari Universitas Indonesia yang juga merupakan Anggota Tim Cagar Budaya Pemprov DKI Jakarta, Candrian Attahiyat. Menurut Candrian, Oud Batavia adalah bentuk kota gagal. Sebab, dari segi kesehatan lingkungan, arsitektur Kota Tua yang bergaya Eropa tak cocok diterapkan di Indonesia yang beriklim tropis.

"Bangunan mereka tipenya berjendela kecil. Karena mereka mengantisipasi musim dingin seperti di Eropa, padahal di sini kan iklimnya tropis. Waktu musim hujan datang, terjadi banjir dan mereka enggak sanggup menanganinya. Belum lagi masalah got," kata Candrian.

Selain itu, ia melanjutkan, kualitas kota Batavia pun semakin menurun. Banyak bangunan saat itu yang hancur termakan iklim dan faktor lingkungan.

Sebagai pemukiman penting, pusat kota, dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, Oud Batavia merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta. Sayangnya, saat ini banyak bangunan dan arsitektur bersejarah yang memburuk kondisinya. Antara lain seperti Museum Sejarah Jakarta (bekas Balai Kota Batavia, kantor dan kediaman Gubernur Jenderal VOC), Museum Bahari, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Museum Bank Indonesia.

"Hanya bangunan besar seperti Museum Fatahillah yang dianggap sehat. Selainnya, bangunan kecil-kecil dihancurkan. Karena Kota Tua ini dulu disebut kota gagal. Ada enam sampai tujuh bangunan besar collapse, padahal yang membangun arsitek terkenal Belanda, tapi roboh juga," papar candrian.

Tak jauh berbeda dengan kondisi sekarang, Kota Tua tetap terkesan kumuh. Saat ini, banyak pedagang kaki lima (PKL) yang dapat kita temui langsung di sekitaran Kota Tua. Hal ini dikritik secara gamblang oleh CEO Komunitas Histori Indonesia, Asep Kambali.

"Sampai sekarang Kota Tua masih semrawut karena pendatang dan pedagang. Perhatikan, kalau sore ke malam pasti bau pesing," kata sejarawan muda itu.

"Padahal mereka cari uang di situ. Kota Tua ramai, tapi pemerintah tidak dapat apa-apa. Mereka (pengunjung) beli ke PKL. Nah, PKL kan tidak menyetor ke pemerintah," imbuh Asep.

Menurut Bayu, untuk menekan menjamurnya PKL di kawan Kota Tua itu, nantinya pemerintah provinsi akan kembali merelokasi PKL sekitaran Kota Tua.

"Karena mereka (PKL) tidak punya sense of belonging atau rasa memiliki sama tempat dia berdagang. Dan nantinya, akan diadakan relokasi PKL dari seluruh lorong Taman Fatahillah ke Kali Besar Timur," kata Bayu.


(ADM)