Kewenangan Share Swap Mitratel di Tangan Telkom

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 26 Jun 2015 13:40 WIB
telkomtower bersama infrastructure
Kewenangan <i>Share Swap</i> Mitratel di Tangan Telkom
Ilustrasi (MI/IMMANUEL ANTONIUS)

Metrotvnews.com, Jakarta: Aksi korporasi transaksi share swap (tukar guling) PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) dengan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) merupakan sebuah kewenangan penuh Telkom sebagai perusahaan terbuka.

"Menurut saya, transaksi share swap saham Mitratel dengan TBIG itu aksi korporasi. Yang dilakukan Telkom ini kan levelnya aksi korporasi, saya kira kewenangannya ada di Telkom, karena Telkom perusahaan terbuka," ujar Ketua Masyarakat Telekomunikasi (Mastel) Kristiono, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (26/6/2015).

Menurut Kristiono, sebagai perusahaan terbuka Telkom mempunyai mekanisme sendiri dalam menjalankan bisnisnya, ada ketentuan yang mengaturnya. Telkom pun melakukan aksi korporasi tersebut tentu melalui pertimbangan yang matang, melalui proses yang governance.

"Karena Telkom perusahaan terbuka, saya kira kalau diperlukan persetujuan bisa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)," lanjutnya.

Sekadar informasi, Menteri BUMN Rini Soemarno sebelumnya juga sempat mengatakan bahwa transaksi tukar guling saham Mitratel dengan TBIG adalah aksi korporasi yang sepenuhnya menjadi kewenangan manajemen Telkom sebagai pemilik Mitratel. Karena itu menteri BUMN memberikan kebebasan kepada Telkom untuk melakukan aksi korporasi tersebut.

"Kita harus memberikan respek terhadap proses yang telah dilakukan Telkom. Jika memang akan dilanjutkan ataupun dibatalkan, hal itu harus melalui proses bisnis yang benar. Kami percaya Telkom telah menjalankan governance dengan sangat baik," ujar Rini.

Berdasarkan hasil review Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Nomor: LR-5/D502/2/2015, proses share swap Mitratel sudah mengalami proses kajian aturan hukum, kajian bisnis dan potensi keuntungan keuangan Telkom. 

Analis CLSA Securities Indonesia, Abdullah Hasyim dalam risetnya mengatakan, berdasarkan transaksi Telkom dengan TBIG, valuasi menara Mitratel dihargai Rp2,8 miliar-Rp3,2 miliar. Angka tersebut sangat tinggi mengingat tenancy ratio menara Mitratel hanya 1,1x, jauh di bawah industri sebesar 1,6x-1,9x.


(ABD)