Nilai dan Norma Terkikis, Kasus Pembunuhan Marak

Damar Iradat    •    Sabtu, 27 Jun 2015 08:26 WIB
pembunuhan jabodetabek
Nilai dan Norma Terkikis, Kasus Pembunuhan Marak
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat Indonesia digegerkan dengan banyaknya kasus pembunuhan yang terus terjadi. Pertama, kasus pembunuhan Akseyna Ahad Dori mahasiswa Universitas Indonesia, kasus kematian Engeline Megawe bocah delapan tahun di Bali, serta pembunuhan Putri di Ciledug.

Selain tiga kasus besar yang menyedot perhatian tadi, masih banyak kasus pembunuhan yang tak muncul di Media. 

Kriminolog UI, Muhammad Mustafa menilai jika sebetulnya tindakan membunuh merupakan potensi manusia yang normal. "Tindakan membunuh merupakan potensi manusia yang normal. Oleh karena itu, setiap masyarakat berusaha mengendalikan dengan merumuskan nilai bahwa membunuh merupakan tindakan yang tercela," kata Mustafa kepada Metrotvnews.com, Jumat malam, 26 Juni 2015.

"Selain itu, masyarakat juga merumuskan hukum yang melarang tindakan tersebut dilakukan serta memberikan sanksi hukuman yang berat bagi pelakunya," lanjut dia.

Lantas, mengapa masih banyak orang yang melakukan tindak pembenuhan?

"Ketika tindakan pembunuhan mudah terjadi, ini mengindikasikan bahwa nilai dan norma anti pembunuhan kurang berfungsi dikalahkan oleh sikap pembenaran terhadap pembunuhan," ujarnya.

"Mengapa nilai kekeraan termasuk pembunuhan lebih dominan? Karena informasi tentang pembenaran kekerasan lebih sering dan mudah diperoleh daripada nilai dan norma anti kekerasan termasuk pembunuhan," jelas Mustafa.

Informasi tersebut, menurut Mustafa, juga dapat diperoleh melalui berbagai sumber, termasuk media massa (cetak maupun elektronik) lewat pemberitaan yang tidak terkendali.


(SUR)