207 Titik Api Terpantau di Sumatera

Wandi Yusuf    •    Minggu, 28 Jun 2015 16:49 WIB
kebakaran hutan
207 Titik Api Terpantau di Sumatera
Sejumlah teknisi mempersiapan peralatan di pesawat CN-295 milik TNI AU yang akan digunakan untuk modifikasi cuaca di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Senin (22/6). Foto: Antara/FB Anggoro

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana menemukan ada penambahan titik api di Sumatera. Total ada 207 titik api akibat terbatasnya curah hujan.
"Sebanyak 71 titik api berada di Riau," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Hubungan Masyarakat BNPD, Sutopo Purwo Nugroho, dalam rilisnya, Minggu (28/6/2015).
 
Sebanyak 71 titik api itu menyebar di Pelalawan sebanyak 24 titik, Rokan Hilir 18 titik, Bengkalis 9 titik, Inhil 6 titik, Dumai 5 titik, Siak 3 titik, Inhu 3 titik, serta di Kuansing, Meranti, dan Kampar masing-masing 1 titik api.

"Luas lahan terbakar 142 hektare. Petugas gabungan dari Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri dan relawan telah berhasil memadamkan 69 hektar. Sedangkan 73 hektar belum dapat dipadamkan," kata Sutopo.

Penyebab kebakaran adalah pembakaran yang disengaja untuk pembersihan dan pembukaan lahan.
 
Hujan buatan yang dilakukan BPPT bersama BNPB dan TNI AU sejak Senin, 22 Juni, hingga sekarang mengalami kendala tidak tersedianya awan-awan potensial di atmosfer yang layak untuk disemai dengan bahan NaCl. Alhasil, pada Jumat 26 Juni dan Sabtu 27 Juni tidak dilakukan penerbangan untuk menyemai awan.
 
Hingga hari keenam pelaksanaan hujan buatan baru dilakukan empat kali penerbangan dengan menebarkan 9,2 ton bahan NaCl dengan pesawat terbang CN 295 TNI AU di ketinggian 11.000 hingga 13.000 kaki di wilayah Riau.
 
Berdasarkan pola titik api periode 2006-2014 di Sumatera-Kalimantan, jumlah titik api akan terus meningkat hingga Oktober mendatang. Puncak titik api diperkirakan terjadi pada September. "Kami imbau semua unsur baik pemerintah, pemda, dunia usaha dan masyarakat untuk selalu mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan," katanya.
 
Sementara itu, mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, diperkirakan September akan menjadi puncak musim kemarau. Saat ini, di wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, Papua bagian selatan, Maluku bagian Selatan dan sebagian Sulawesi Selatan, mengalami kekeringan. Rata-rata curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan.

Bahkan di Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB curah hujan kurang dari 50 milimeter. Beberapa daerah telah mengalami kekeringan seperti Purbalingga, Gunungkidul, Wonogiri, Tuban, Bojonegoro, Boyolali, Lombok Utara dan NTT. Sebagian besar wilayah di Sumatera juga kering hingga sedang.


(UWA)