Tips Aman Berbuka Puasa untuk Penderita Hipertensi dan Diabetes

Torie Natalova    •    Senin, 29 Jun 2015 12:18 WIB
kesehatanpuasa
Tips Aman Berbuka Puasa untuk Penderita Hipertensi dan Diabetes
Penderita penyakit tertentu harus perhatikan asupan saat berbuka. (Foto:lifehacker.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Puasa bukanlah ajang untuk diet atau mendapatkan tubuh yang proporsional. Puasa merupakan pelajaran untuk menyusun kembali menu-menu yang salah di luar bulan puasa dan bagaimana seharusnya mengonsumsi makanan sehat dan seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh dalam keadaan dasar.

Bagi Anda yang tetap puasa saat sakit, jika Anda menyiasati dengan benar makanan yang seimbang dengan apa yang dilakukan, itu berarti Anda telah memberi tubuh asupan yang benar. Jika kita masih merasakan keluhan sakit selama puasa setelah mengonsumsi nutrisi yang tepat, berarti ada faktor lain yang menimbulkan keluhan kesehatan seperti faktor lingkungan atau infeksi.

Pakar gizi Rita Ramayulis mengatakan, justru salah bila kita menahan sakit yang berkepanjangan dalam keadaan berpuasa. Karena, selain menghilangkan pahala atau nilai esensi puasa, kondisi badan kita akan menjadi lemah. 

Rita menyarankan untuk menghindari protein hewani saat berbuka puasa karena mengandung asam lemak rantai panjang dan termasuk dalam golongan yang sulit dicerna tubuh. 

"Camilan dari beras ketan juga sebaiknya dihindari karena serat larut airnya rendah, selain itu yang perlu juga dihindari adalah ubi, singkong, nangka muda, durian, soda, tape dan makanan yang telalu manis, terlalu asin serta terlalu asam juga harus dihindari," katanya.

Sementara itu, bagi penderita diabetes, perlu mengetahui berapa jumlah yang harus dikonsumsi sesuai dengan kemampuan tubuh untuk mengolahnya. Penderita diabetes tentu saja akan kesulitan untuk merubah glukosa dari karbohidrat sederhana jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar atau dengan indeks glikemik yang tinggi. 

"Hal ini disebabkan karena hormon insulin pada penderita diabetes sebagian telah resisten. Oleh karena itu, penambahan gula pada minuman maksimal hanya 10 persen, dikonsumsi bersama dengan makanan berserat misalnya kolak (tambahan gula secukupnya dan konsumsi dengan bahan kolaknya seperti pisang dan ubi), jus buah tanpa disaring” ujar Rita.
 
Untuk makanan utama, jumlah dan jenisnya sangat ditentukan dengan riwayat penyakit yang ada. Bagi yang memiliki riwayat hipertensi, harus membatasi jumlah makanan yang asin dan memperbanyak makanan sumber kalium seperti kentang, apel, pisang, belimbing. 

Bagi yang memiliki riwayat asam urat, tentunya harus menghindari jeroan dan daging, kemudian setelah makanan utama dapat mengonsumsi sari buah yang mengandung asam sitrat seperti sari jeruk. 

Untuk yang memiliki riwayat penyakit dislipidemia atau kelainan kolesterol, harus membatasi konsumsi makanan hewani, makanan yang digoreng dan yang disantan kental. 

Sedangkan bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes melitus, sangat penting memperhatikan sayur yang akan dikonsumsi, haruslah terdiri dari jenis tipe A dan tipe B/C. Sayuran tipe A adalah sayuran yang tidak mengandung energi hanya mengandung serat dan mikronutrien yang diperlukan oleh penderita diabetes melitus untuk menurunkan indeks glikemik mkn (menurunkan respon insulin terhadap makanan). Sayuran yang bisa dikonsumsi seperti tomat, ketimun, selada, lobak, oyong. Sayuran tipe B dan C mengandung energi 25 sd 50 kcal untuk  setiap sajinya.


(LOV)