Berkumur Saat Puasa, Bolehkah?

Tri Kurniawan    •    Senin, 29 Jun 2015 13:16 WIB
ramadan 2015
Berkumur Saat Puasa, Bolehkah?
Seorang muslim berwudhu untuk salat Zuhur di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis 13 September 2007. Antara Foto/Fouri Gesang Sholeh

Assalamu'alaikum wr wb. Pak Kiai.

Saya ingin bertanya hukum berkumur saat berpuasa menurut pandangan NU. Terimakasih banyak kami sampaikan sebelumnya. Wassalamu’alaikum wr. wb (Dedi Setiawan)

****

Wa’alaikum salam wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pertanyaan di atas kelihatan sangat simpel, dalam benak kami mungkin yang dimaksud adalah berkumur ketika wudhu, padahal sedang menjalankan ibadah puasa. Atau bisa jadi termasuk berkumur di luar wudhu.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama salah satu hal yang sebaiknya dilakukan atau dihukumi sunnah ketika menjalankan wudlu adalah berkumur dengan sungguh-sungguh (al-mubalaghah).

Namun, berkumur dengan bersungguh-sungguh tidak disunnahkan bagi orang yang sedang menjalani ibadah puasa. Bersungguh-sungguh maksudnya berkumur terlalu kencang atau terlalu banyak. Hal ini karena adanya kekhawatiran akan membatalkan puasanya.

“Adapun orang yang berpuasa maka tidak disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berkumur karena khawatir membatalkan puasanya sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab al-Majmu`”. (lihat Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, 1, h. 39)

Kesimpulan ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan Abu Basyar ad-Dulabi, yang menurut Ibn al-Qathan dikategorikan sebagai hadits sahih.

“Ketika kamu berwudhu maka bersungguh-sungguhlah dalam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung sepanjang kamu tidak berpuasa” (lihat, Jalaluddin as-Suyuthi, Jami’ al-Ahadits, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 3, h. 10)  

Lantas apakah yang dimaksudkan dengan bersungguh-sungguh atau mubalaghah dalam konteks di atas? Menurut Imam Syafii maksud bersungguh-sungguh dalam berkumur adalah memasukkan air ke dalam mulut kemudian menjalankannya di dalam mulut lalu memuntahkannya. Hal ini sebagaimana keterangan dalam kitab al-Majmu` Syarh al-Muhadzdzab.

“Imam Syafii berkata bahwa besungguh-sungguh dalam berkumur adalah mengambil air (dari tangan) dengan kedua bibir kemudian menjalankannya (memutar-mutar) di dalam mulut lantas memuntahkannya. Sedang bersungguh-sungguh dalam menghirup air ke dalam hidung adalah mengambil air melalui hidung kemudian menghirupnya dengan napas lantas mengeluarkannya” (lihat Muhyidin Syarf an-Nawawi, al-Majmu` Syarh al-Muhadzdzab, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 1, h. 355)    

Penjelasan di atas lebih terfokus pada berkumur saat wudhu. Lantas bagaimana dengan berkumur selain dalam wudhu pada saat menjalankan ibadah puasa, misalnya untuk keperluan bersikat gigi? Berkumur dalam hal ini boleh namun jangan sampai ada air yang tertelan karena akan membatalkan puasa.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi orang-orang yang berpuasa sebaiknya menghindari hal-hal yang berpotensi untuk membatalkan puasanya. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.


Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan  (pengampu Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama) Sumber: NU Online


(TRK)