Yakuza Apocalypse, Bukan Sekadar Geng, Vampir dan Laga

Agustinus Shindu Alpito    •    Selasa, 30 Jun 2015 00:50 WIB
film indonesia
Yakuza Apocalypse, Bukan Sekadar Geng, Vampir dan Laga
Foto: Yayan Ruhiyan dalam Yakuza Apocalypse / Ist.

Metrotvnews.com, Jakarta: Tahun lalu, sebuah kabar menggembirakan datang dari dunia sinema. Yayan Ruhian, aktor laga ahli pencak silat bermain dalam film Jepang berjudul Yakuza Apocalypse. Tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat Indonesia melihat aktornya bisa menembus karier internasional.

Ternyata, Yakuza Apocalypse bukan sembarang film. Selain diarahkan oleh sutradara legandaris Takashi Miike, film itu digadang-gadang sebagai proyek idealis yang ditujukan untuk memporak-porandakan industri film dengan gayanya sendiri.

"Bersiaplah. Minggirlah produksi Jepang yang membosankan! Aku ingin melawan keinginan semua orang. Aku akan kembali ke akarku dengan film yang satu ini dan ingin gila-gilaan mengamuk dengan Yakuza Apocalypse. Aku berharap pemain, kru dan bahkan diriku sendiri bisa menyelesaikan film ini hidup-hidup," kata Miike soal film ini, seperti tertulis dalam rilis yang Metrotvnews.com terima, Senin (29/6/2015).

Film semata bukan terbatas soal membuat penonton pulang dengan riang, tetapi mengajak penonton berpikir jauh soal apa saja yang bisa digali dari kisah yang dihadirkan.

Bicara soal dunia hitam Jepang, tidak lepas dari kata Yakuza. Miike mencoba menghadirkan kisah dengan benang merah Yakuza, tetapi mengaitkan dengan mitologi-mitologi yang jauh lebih kompleks.



Berawal dari tokoh bernama Kamiura (Lily Franky), seorang bos Yakuza yang tak terkalahkan. Tidak ada yang menyadari bahwa Kamiura adalah seorang vampir, sampai suatu ketika datang seorang pria misterius yang menawarkan dua pilihan pada Kamiura, mati atau kembali bergabung ke sindikat internasional yang sudah ditinggalkannya.

Pria misterius itu datang bersama seorang pembunuh yang jago bela diri, namun berpenampilan culun, terkesan sebagai anime-otaku. Dia adalah Kyoken (Yayan Ruhian).

Kamiura akhirnya mati di tangan Kyoken, namun ia sempat menurunkan darah vampirnya ke anak buahnya yang paling setia, sekaligus lemah, yaitu Kageyama (Hayato Ichihara). Dari situlah kejadian semakin rumit.

Sebagai vampir pemula, Kageyama sangat lancang dalam mengisap darah manusia. Akibatnya, hampir seluruh warga di daerahnya menjadi korban haus darahnya.

Kesampingkan harapan Anda bahwa Yakuza Apocalypse adalah film aksi laga ringan dengan latar belakang perang antar mafia. Miike nampaknya memenuhi ucapannya yang mengatakan bahwa film ini akan jadi pembuktian niatnya untuk gila-gilaan.

Film Jepang secara umum tak pernah jauh dari adaptasi anime atau tokoh fiksi yang penuh fantasi. Cara pendekatannya pun sama. Itulah yang nampaknya membuat Miike gatal. Dia menerjemahkan berbagai tokoh rekaan dengan pendekatan sureal, tapi tidak lepas dari satire-satire sosial yang ada.

Tokoh Kageyama misal, dia memiliki rajah (tato) karakter Jiraiya yang sedang menunggang katak raksasa. Menerjemahkan kepahlawanan sosok Jiraiya dan katak raksasa tidak dilakukan secara vulgar dan mentah.

Juga pendekatan sosial soal makna "Yakuza" dan "warga sipil" yang berulang kali diucapkan dalam film. Miike menerjemahkan bahwa "Yakuza" adalah sekelompok manusia yang suka semena-mena terhadap "warga sipil."

Dalam film ini, Yakuza yang berdarah vampir bahkan terang-terangan menyebut warga sipil darahnya lebih lezat ketimbang darah Yakuza, lantaran warga sipil tidak memiliki kuasa dan tak berdaya. Hal ini lebih teredengar sebagai sebuah sindiran yang diungkapkan Miike soal konglomerasi dan persekongkolan tingkat atas terhadap rakyat kecil.

Sementara itu sosok mitologi asal Jepang, Kappa, yang berwujud manusia dengan paruh, hadir di tengah rumitnya persoalan antara Yakuza vampir melawan Yakuza manusia. Kappa dihadirkan sebagai simbol sosok spiritual yang selalu saja hadir sebagai pembisik di tengah kekacauan, yang justru membuat keadaan makin rusak.

Yayan mengambil porsi peran cukup besar, dia tampil di duel-duel penting dalam film. Kehadirannya sekaligus jadi warna baru, karena dia satu-satunya aktor dari luar Jepang dalam film ini. Karakter yang diperankannya pun penuh pesan tersirat. Sebagai jagoan berawajah Melayu, Kyoken justru seorang anime-otaku. Sebuah citra bahwa invansi budaya Jepang sudah merajalela. Seperti di film-film Yayan sebelumnya, karakter tenang sekaligus beringas akan tampak dalam film ini.


 


(AWP)