Omzet Penjualan Kerang di Bali Menurun

Antara    •    Selasa, 30 Jun 2015 11:45 WIB
kerajinan
Omzet Penjualan Kerang di Bali Menurun
Nelayan mengumpulkan kerang simping (Capiz Shell) di tepi Sungai Cibanten, di Karangantu, Serang, Banten, Senin (13/1/2014). ANT/Asep Fathulrahman

Metrotvnews.com, Denpasar: Omzet penjualan kerang di objek wisata Pantai Peti Tenget, Kabupaten Badung, Bali mengalami penurunan  drastis akibat minat wisatawan membeli berbagai jenis kerajinan laut berkurang.

Suparman, penjual kerang di pantai Peti Tenget, Selasa menjelaskan, penurunan omzet terjadi sejak awal tahun ini, sehingga nasib para pedagang kecil semakin memprihatinkan di tengah situasi ekonomi yang sulit ini,  sementara kebutuhan biaya hidup dan menyekolahkan anak semakin tinggi.

"Jika sebelumnya bisa menjual Rp150.000-Rp300.000 dalam sebulan, namun saat ini hanya terjual Rp50.000-Rp100.000 saja dan itu pun kalau ada pembeli, kalau sepi tidak dapat apa apa," imbuhnya di Bali, Selasa 
(30/6/2015).

Ia menambahkan kenaikan jumlah pengunjung ke objek wisata bahari yang berlokasi sekitar tujuh kilometer (km) dari Pantai Kuta itu tidak sedikit pun berpengaruh terhadap kenaikan jumlah pembeli kerang.

Menurunnya minat wisatawan membeli kerang disebabkan menjamurnya toko seni sehingga mematikan usaha-usaha kecil daerah itu walaupun masih ada yang bertahan dengan penurunan omzet cukup signifikan.

Apalagi, toko seni dilengkapi  fasilitas mewah dan super modern, membuat konsumen yang kebanyakan wisatawan asing nyaman berbelanja di sana meski dengan risiko harga tinggi.

"Kalau penjual kerang seperti saya jelas kalah jauh dibandingkan toko seni, mereka punya fasilitas sedangkan kami hanya punya satu meja ini saja," katanya sembari menunjukkan meja butut tempatnya menjajakan kerang.

Menurut dia,  untuk menutupi kerugian terpaksa dijual dengan harga murah berbagai jenis kerang seperti kerang sangka, kerang batu, kerang kecil, dan kerang kalung dijual ke toko seni  karena membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia mencontohkan, kerang biasa yang biasanya dijual Rp10.000 per biji, terpaksa dijual seharga Rp5.000 saja per biji.
"Karena itulah saya terpaksa menjual kerang dengan harga sangat murah, bisa turun sampai 50 persen," ujarnya.


(SAW)