LPS Revisi Pertumbuhan Penyaluran Kredit Jadi 12,8%

Angga Bratadharma    •    Selasa, 30 Jun 2015 17:17 WIB
perbankankreditlps
LPS Revisi Pertumbuhan Penyaluran Kredit Jadi 12,8%
Kantor LPS (MI/ROMMY PUJIANTO)

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengaku melihat akan ada sedikit perbaikan pada prospek sistem perbankan dalam jangka pendek ke depan, ditunjang oleh pelonggaran kebijakan makroprudensial dan potensi percepatan laju penyaluran kredit oleh industri perbankan Indonesia.

Hal itu seperti diungkapkan dalam laporan analisis stabilitas dan sistem perbankan triwulan II-2015, seperti dikutip dari laman LPS, Selasa (30/6/2015). Dalam laporan itu, kebijakan BI yang menaikkan Loan to Value (LTV) untuk KPR dan menurunkan uang muka untuk KKB diharapkan bisa menopang pertumbuhan kredit ke depan, terutama kredit konsumsi.

Selain relaksasi kebijakan makroprudensial, laju kredit diperkirakan juga akan disokong oleh penurunan biaya dana yang sekarang sudah mulai terjadi. Sebaliknya, rasio non performing loan (NPL) dan pertumbuhan NPL nominal yang masih relatif tinggi, serta perilaku bank yang cenderung hati-hati dalam menyikapi perlambatan aktivitas ekonomi, LPS duga menjadi kendala utama bagi pertumbuhan kredit ke depan.

Dengan dasar itu, LPS memperkirakan penyaluran kredit perbankan akan tumbuh sebesar 12,8 persen pada 2015, lebih rendah dari proyeksi LPS sebelumnya yang sebesar 14,2 persen. Sebaliknya, LPS menaikkan perkiraan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tahun ini dari 12,2 persen menjadi 14,1 persen.

Secara kuantitatif, kinerja sistem perbankan mengalami pelemahan pada kuartal I-2015, antara lain dipicu oleh penurunan kualitas kredit, penurunan profitabilitas, dan perlambatan laju kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross meningkat dari 2,16 persen pada kuartal IV-2014 menjadi 2,4 persen pada kuartal I-2015.

Beberapa sektor ekonomi penting tercatat masih mengalami pertumbuhan NPL  yang sangat tinggi. NPL sektor konstruksi dan transportasi, misalnya, melonjak 70,73 persen dan 59,41 persen di Maret. Sektor perdagangan (yang memiliki porsi kredit terbesar) mengalami peningkatan NPL sebesar 37,25 persen pada saat yang sama.


(ABD)