RI Pernah Diminta AS Kirim Pasukan Perangi ISIS

Fajar Nugraha    •    Selasa, 30 Jun 2015 21:32 WIB
marty natalegawa
RI Pernah Diminta AS Kirim Pasukan Perangi ISIS
Mantan Menlu RI Marty Natalegawa (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Melbourne: Menurut mantan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa, Amerika Serikat (AS) pernah meminta Indonesia mengirimkan pasukan untuk memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS).

Pemerintah Indonesia pada saat diminta AS pada akhirnya menolak pengerahan pasukan itu. Bagi Marty, Indonesia lebih memberikan kontribusi memerangi ISIS dengan cara mengatasi ancaman dari dalam neger. Mengirimkan pasukan, hanya bersifat "kosmetik" bagi Indonesia.

Meskipun AS bersikeras untuk membentuk koalisi luas untuk memerangi kelompok militan itu, Negeri Paman Sam pun menerima penolakan dari Indonesia.

"Ketika Indonesia diminta untuk bergabung dalam koalisi memerangi ISIS melalui peperangan darat, respons kami saat itu lebih memilih memerangi kekejaman ISIS dengan memastikan ideologi mereka tidak berkembang di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia (Indonesia)," ujar Marty di sebuah acara di Australian National University's Crawford School, seperti dikutip Sidney Morning Herald, Selasa (30/6/2015).

"Bagi kami lebih baik memberikan kontribusi, untuk melakukan usaha semacam itu di dalam negeri. Dibandingkan harus memberikan kesempatan untuk pencitaraan di Jenewa atau negara Eropa lainnya, tetapi pada akhirnya justru menciptakan kecaman di dalam negeri," jelasnya.

Marty tidak menyebutkan nama Amerika Serikat dalam keterangannya. Namun ketika ditanya negara mana yang meminta bantuan itu, Marty menjawab dengan bercanda:

"Siapa negara yang mampu mengumpukan banyak koalisi negara? Negara itulah yang saya maksud," tutur Marty.

AS mengumpulkan koalisi besar termasuk negara Muslim di Timur Tengah. Meskipun menilai ISIS harus diberantas, pemerintahan Barack Obama sangat khawatir untuk menciptakan persepsi akan adanya invasi baru dari negara Barat di Irak.

"Sejujurnya, Indonesia lebih mementingkan bisa berbuat lebih banyak dengan mengatasi masalah di dalam negeri, dibandingkan harus mengirim pasukan yang tujuannya lebih banyak kosmetik (pencitraan)," tutur Marty.

Marty menambahkan permintaan bantuan pasukan darat lebih banyak pada bidang pelatihan atua konsultasi prajurit. Peran tersebut terus menerus ditolak oleh AS, untuk diberikan kepada Irak.
 
(FJR)