Cerita Duka Alutsista Renta

   •    Rabu, 01 Jul 2015 06:13 WIB
alutsista
Cerita Duka Alutsista Renta

ALAT utama sistem persenjataan (alutsista) milik Indonesia kembali menggoreskan cerita duka. Alusista yang sudah renta lagi-lagi memakan korban rakyat dan menyebabkan nyawa putra-putri terbaik bangsa melayang sia-sia. Cerita duka itu datang dari Medan, Sumatra Utara, ketika pesawat angkut TNI-AU, Hercules C130, jatuh di Jl Jamin Ginting, kemarin.

Pesawat dengan 12 kru dan disebut-sebut juga mengangkut warga sipil tersebut hilang kendali 2 menit setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Medan, dengan tujuan Tanjung Pinang. Pilot sempat meminta return to base, tetapi pesawat buatan 1964 itu enggan diajak kompromi. Ia menghantam ruko, menghunjam ke permukiman, terbakar, dan menewaskan banyak orang, baik sipil maupun prajurit.

Korban tewas mencapai ratusan karena pesawat itu mengangkut pula warga sipil yang sejatinya tidak diperkenankan. Kita amat berduka atas musibah memilukan itu. Kita amat prihatin lantaran lagi-lagi alutsista yang seharusnya menjadi perangkat pelindung dari ancaman musuh justru berperan sebaliknya. Ia menebarkan kematian, menjadi pencabut nyawa rakyat dan para pengawal kedaulatan bangsa.

Bukan kali ini saja pula alutsita kita menunjukkan peran paradoksal. Pada 1991, pesawat Hercules jatuh di Condet, Jakarta Timur. Sebanyak 133 prajurit Pasukan Khas TNI-AU dan dua warga sipil tewas. Masih lekat dalam ingatan ketika 101 orang meninggal akibat Hercules jatuh di Magetan, Jawa Timur, pada 2009. Terakhir, pada April silam, pesawat F-16 terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Tak cuma alutsista milik TNI-AU, alutsista matra lain juga pernah menjadi penyebab musibah. Pada 2008, enam marinir tewas bersama tank amfibi yang tenggelam di perairan Situbondo, Jawa Timur. Begitulah, alutsista hancur bukan karena diandalkan untuk bertempur. Ia jatuh bukan karena bidikan musuh, melainkan karena sebab lain, di antaranya usia yang uzur.

Hercules yang jatuh di Medan sudah berumur 51 tahun. Pesawat F-16 yang terbakar di Halim Perdanakusuma ialah pesawat bekas berusia 30 tahun. Tank amfibi yang tenggelam di Situbondo sudah berusia 46 tahun. Jatuhnya pesawat Hercules di Medan ialah pesan tegas bahwa alutsista kita perlu perhatian ekstra. Harus kita katakan, meski terus meningkat, perhatian negara terhadap sektor pertahanan kita belumlah optimal.

Anggaran pertahanan pada APBN-P 2015 sebesar Rp101,625 triliun, atau 1% dari produk domestik bruto, memang terbesar dalam sejarah. Namun, porsi itu belum ideal, yakni di atas 1,5% dari PDB. Bandingkan dengan Malaysia yang anggaran pertahanannya telah mencapai 1,6% dari PDB, Singapura 3,2%, Vietnam 2,1%, dan Thailand 1,5%.

Sudah saatnya eksekutif dan legislatif kompak bersikap untuk membawa pertahanan Republik ini ke arah ideal dengan terus menambah anggaran. Namun, kita juga perlu mengingatkan pentingnya penggunaan anggaran secara tepat guna, transparan, dan akuntabel.

Jangan manfaatkan prinsip kerahasiaan negara untuk patgulipat menilap uang rakyat. Jangan lagi membeli senjata bekas atau silau dengan tawaran hibah, tapi mengabaikan kualitas. Jangan biarkan nyawa prajurit dan rakyat terus melayang sia-sia akibat alutsista yang renta.


Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

13 hours Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA